Bus Karatan Jadi Alat Kampanye Hitam, Jokowi: Itu Biasa

Joko Widodo menganggap merebaknya kasus pengadaan bus Transjakarta untuk menyerangnya sebagai kampanye hitam.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 07 April 2014, 14:00 WIB
Dalam kunjungannya itu, Jokowi mengaku sempat sesak nafas ketika pertama kali ke kawasan di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Bus Transjakarta (BKTB) karatan digunakan lawan politik Jokowi sebagai kampanye hitam. Namun Calon Presiden dari PDIP itu menganggap kampanye hitam itu adalah hal yang wajar.

"Ah, itu biasa. Dalam situasi seperti ini dipakai untuk men-downgrade atau menurunkan tingkat itu biasa," ujar Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Senin (7/4/2014).

Dalam kasus dugaan korupsi dalam pengadaan bus Tranjakarta yang kini ditangani Kejaksaan Agung (Kejagung) nama mantan Walikota Surakarta itu berkali-kali dituding ikut terlibat.

Namun, Jokowi membantah keras atas kemungkinan terlibat dalam kasus tersebut. Walau mempunyai kewenangan dan yang pihaknya mempunyai hal untuk menyetujui atau tidak nya kebijakan, Jokowi tak mengetahui adanya dugaan penyimpangan itu.

"Itu (masalah) penggunaan anggaran, harus ngerti mekanisme di pemerintah. Saya beri contoh, saya suruh kamu ke utara, kamu pengguna anggaran, tapi kamu nyemplung ke jurang gimana? Siapa yang salah? Yang nyuruh (saya) ke utara, tapi kamu (yang) nyemplungi ke jurang," kata Jokowi.

Menurutnya, walau mempunyai hal dan kewenangan, dia tetap tidak bisa mengendalikan seluruh hal-hal yang bersifat mendetail. Karena itu, dalam setiap proyek atau pengadaan barang pihaknya selalu mengikutsertakan pihak inspektorat sebagai pengawas.

"Ada 57 ribu item kegiatan dan nggak mungkin saya awasi satu-satu. Tapi, kalau kebijakan di Jakarta jelas dong kebijakannya di gubernur," ungkap Jokowi. ‎

Sebanyak 10 unit Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dan 5 unit bus Transjakarta yang masih dalam kondisi baru ditemukan mengalami kerusakan dan karatan. Kepala Dinas Perhubungan kala itu, Udar Pristono, beralasan mesin karatan disebabkan karena terkena uap air laut ketika pengiriman dari China ke Jakarta. (Raden Trimutia Hatta)

Baca juga:

Kasus Korupsi Transjakarta, Jokowi-Ahok Mungkin Diperiksa Jaksa

Korupsi Transjakarta, Eks Kadishub DKI Udar Pristono Diperiksa

Prabowo Sebut Pemimpin Jakarta Penipu, Ahok: Saya Termasuk, Dong

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya