Liputan6.com, Jakarta - Perang puisi antara kubu capres Prabowo Subianto di bawah payung Partai Gerindra dengan capres PDIP Joko Widodo alias Jokowi terus berlanjut. Perang puisi ini dinilai menunjukkan para politisi kedua partai tersebut tidak cerdas.
"Perang sajak yang dilakukan melalui puisi oleh kedua partai ini menunjukkan, mereka, politisi kita yang tak cerdas," kata Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing kepada Liputan6.com, Jakarta, Jumat (4/42014).
Namun yang terpenting, perperangan yang dimulai Fadli Zon melalui sentilan puisinya itu, telah membawa kubu PDIP terpancing dan terjebak dalam skema politik yang dikumandangkan partai besutan Prabowo Subianto itu.
"Apa yang dilakukan Fadli Zon melalui puisinya yang diberitakan media menyerang Jokowi sebenarnya tidak eksplisit. Namun, balasan sajak yang diberikan PDIP justru melihatkan PDIP sudah terpancing masuk ke dalam skema politik Gerindra. Jadi dalam konteks ini keuntungan bisa dikatakan tidak didapatkan keduanya," terang Emrus.
Kesalahan PDIP
Advertisement
Balasan puisi yang dilakukan PDIP melalui sajak yang berjudul 'Pemimpin Tanpa Kuda' kepada Gerindra merupakan sebuah kesalahan PDIP. Sebab, jika PDIP bisa mengelola isu puisi 'Boneka' dari Gerindra, dapat meningkatkan elektabilitas partai berlambang banteng moncong putih itu. "Puisi ini memang tidak jelas ditujukan untuk siapa."
"Tetapi kalau ini memang ditujukan kepada Jokowi, tergantung bagaimana pihak Jokowi mengelola isu ini. Kalau ini serangan, maka lebih baik PDIP dan Jokowi memanfaatkan serangan ini political victim (korban politik). Sebagai korban. Elektabilitas Jokowi pasti naik. Sepanjang memang mengelola isu ini posisi sebagai pihak dizalimin," sambung Emrus.
Namun kesalahannya, karena PDIP meng-counter puisi tersebut dengan puisi tersebut. Seharusnya, PDIP cukup menggelar konferensi pers dengen menyebutkan visi-misi dan program PDIP. "Tetapi PDIP dan Jokowi meng-counter seperti puisi ini, sama saja bertempur pada high contact. Masyarakat punya persepsi liar untuk mengartika perperangan puisi ini."
"Oleh karena itu, idealnya ingin memenangkan serangan ini tidak meng-caounter dengan puisi juga tetapi dalam bentuk program-program rakyat dalam sebuah konferensi pers," imbuh Emrus.
Namum, kata Emrus, karena perseteruan abstrak melalui perang sajak ini sudah dilakukan kedua parpol, maka dapat memungkinkan para pemilih yang mengambang beralih ke partai lain. "Jadi tidak ada yang diuntungkan. Ini bisa membuat pemilih, meraka pindah ke partai yang lain," pungkas Emrus.
Baca juga: