Sementara prestasi Jepang lebih baik: tiga kali lolos ke putaran final secara berturut-turut sejak 1998. Pada 1998, Jepang tidak pernah menang namun 4 tahun berikutnya menjadi pemimpin Grup H dengan 2 kali kemenangan yang diperoleh dari Rusia dan Tunisia. Namun pada 1998 dan 2002, Jepang tidak pernah menang dalam pertandingan pembukaan grup. Apakah Australia yang akan menjadi "korban" kemenangan pertama Jepang dalam partai pembukaan?
Tentu saja Australia bukan lawan yang mudah. Kedua tim menunjukkan kekuatan berimbang sepanjang 14 kali pertemuan. Australia dan Jepang saling mengalahkan sebanyak 5 kali dan seri 4 kali. Namun kekuatan Australia sekarang berbeda dengan empat tahun sebelumnya.
The Socceroos punya segudang pemain yang merumput di liga top Eropa, tersebar di Inggris, Belanda, Italia, dan Spanyol, misalnya Mark Viduka, Harry Kewell, Tim Cahill, Bresciano, Aloisi, Grella, Chipperfield, dan Tony Popovic. Para pemain inilah kunci sukses Australia menaklukkan peringkat ke-5 Amerika Latin, Uruguay, sehingga lolos ke putaran final di Jerman.
Beberapa partai pemanasan menjelang Piala Dunia menunjukkan bahwa kekuatan Australia dan Jepang sama-sama maju pesat. Anak-anak asuhan Guus Hiddink mampu menahan Belanda dan mengalahkan Yunani. Sementara, anak-anak asuhan Zico mampu menahan Jerman. Kemajuan berarti ditunjukkan Jepang dalam Piala Konfederasi dimana mereka bisa menahan Brasil dan menang atas Yunani.
Problem bagi Jepang ada di sisi penyerangan. Beberapa pemain kuncinya terbelit cedera. Atsushi Yanagisawa dan Tatsuhiko Kubo mungkin tidak akan dimainkan. Akira Kaji, gelandang sayap yang biasa mendukung penyerangan juga akan absen. Sementara Australia mungkin hanya mengistirahatkan Harry Kewell dan mengandalkan Viduka di depan. Hiddink juga punya alternatif memainkan Jo