Pakar Pendidikan Global Ingatkan Kesuksesan Bukan Hanya dari Tingginya Nilai Akademik

Pakar Pendidikan yang diakui secara global Dr Thomas Guskey mengingatkan, seiring perkembangan zaman, definisi kesuksesan pun perlu ikut berubah.

oleh Tim NewsDiperbarui 29 Mei 2025, 14:58 WIB
Pakar Pendidikan yang diakui secara global Dr Thomas Guskey mengingatkan, seiring perkembangan zaman, definisi kesuksesan pun perlu ikut berubah. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini, kesuksesan sering diartikan dengan nilai akademik yang tinggi. Namun seiring perkembangan zaman, definisi kesuksesan pun perlu ikut berubah. Universitas-universitas terkemuka dunia serta tantangan global di masa depan, menuntut lebih dari sekadar nilai A.

Tetapi saat ini mereka mencari siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga memiliki karakter etis, mampu berkomunikasi dengan baik, dan tangguh dalam menghadapi perubahan.

Untuk membantu orang tua memahami makna kesuksesan dalam konteks masa kini, Redea Institute yang menaungi jaringan Sekolah HighScope Indonesia mengundang Pakar Pendidikan yang diakui secara global Dr Thomas Guskey dalam lokakarya khusus orang tua bertajuk 'Beyond the 'A': What Universities Really Want and What Your Child Truly Needs' yang diadakan di Jakarta Rabu 21 Mei 2025 dan Denpasar, Bali pada Jumat 23 Mei 2025.

Pada kesempatan tersbeut, Guskey membagikan wawasan praktis dari hasil penelitian dan pengalaman selama puluhan tahun di bidang asesmen siswa, pembelajaran profesional, dan reformasi pendidikan.

"Meskipun prestasi akademik tetap penting, hal itu bukan lagi satu-satunya penentu kesuksesan masa depan," ujar Guskey, melalui keterangan etertulis, Selasa (27/5/2025).

Dia menjabarkan, menurut survei yang dilakukan oleh National Association for College Admission Counseling (NACAC) 2023, selain nilai, faktor penting yang juga dipertimbangkan oleh universitas dalam menerima mahasiswa baru mencakup atribut karakter positif 28,3%, esai dan contoh tulisan 18,9%, serta minat yang ditunjukkan terhadap universitas tersebut (15,7%).

"Menurut Anda, berapa lama rata-rata petugas penerimaan membaca data setiap pelamar sebelum membuat keputusan? Ingat, ini adalah universitas terkemuka yang hanya menerima 3% sampai 7% dari pelamarnya—dan mereka mengatakan hanya butuh waktu 6 menit untuk memutuskan," kata Guskey.

 

Pendekatan Pendidikan

Guskey juga merupakan rekan penulis buku Life Skills for All Learners bersama CEO Redea Institute Antarina S.F. Amir. Guskey lalu menekankan, petugas penerimaan sangat menghargai keterampilan hidup yang berperan penting dalam kesuksesan siswa di perguruan tinggi dan dunia kerja, seperti kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi lintas budaya, dan berkontribusi bagi komunitas.

"Inilah hal-hal yang ingin diketahui oleh universitas terkemuka dunia. Dan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Redea Institute—tidak hanya dalam pengembangan keterampilan ini, tetapi juga dalam asesmen dan pencatatannya di rapor serta transkrip nilai—sungguh luar biasa. Apa yang mereka lakukan jauh melampaui banyak institusi lainnya di dunia," papar dia.

Selama sesi berlangsung, para orang tua diajak untuk melihat bagaimana pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh—menggabungkan keunggulan akademik dan keterampilan hidup—dapat memampukan siswa untuk tidak hanya masuk ke universitas ternama, tetapi juga berkembang dan sukses setelahnya.

Lalu, ada pula testimoni dari Raja Michael Hegarty, siswa kelas 12 yang menceritakan bagaimana sekolah membekalinya dengan keterampilan hidup esensial yang turut mendukung proses seleksi masuk universitas.

"Saya bersyukur dapat diterima di beberapa universitas. Dalam memilih yang terbaik, saya perlu banyak berpikir kritis dan refleksi diri. Saya bertanya, jurusan dan universitas mana yang bisa memberikan apa yang saya butuhkan untuk mencapai cita-cita saya? Apakah mereka menyediakan mata kuliah yang saya perlukan?," kata Raja.

Dia juga berbagi bagaimana berbagai kesempatan belajar di sekolah memperkaya portofolionya dalam proses pendaftaran universitas.

 

Sampaikan Terima Kasih

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Dr Thomas Guskey bersama dengan Redea Institute juga berkunjung ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen).

"Redea Institute terus berkomitmen mendampingi para orang tua sebagai mitra dalam membentuk pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin masa depan," ucap Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S.F. Amir.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua Sekolah HighScope Indonesia yang telah berpartisipasi dalam lokakarya ini.

"Kini saatnya kita meninjau ulang apa makna kesuksesan yang sebenarnya—dan bagaimana kita bisa mempersiapkan anak-anak kita sebaik mungkin," tutup dia.

Untuk diketahui, Dr Guskey adalah Fellow dari American Educational Research Association dan telah menerima berbagai penghargaan tertinggi atas kontribusinya dalam menghubungkan riset dengan praktik nyata di dunia pendidikan.

Ia telah menulis dan menyunting lebih dari 30 buku pemenang penghargaan serta menerbitkan lebih dari 300 artikel dan makalah profesional.

Infografis Sasaran, Tujuan, Jenjang Pendidikan & Fasilitas Sekolah Rakyat. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya