Pengelola SPBU di Tulungagung Meradang

Buntut penurunan harga premium dan solar, para pengelola SPBU di Tulungagung, Jatim, meradang. Mereka menilai Pertamina terlalu mendadak menurunkan harga sehingga merugi karena harus menjual puluhan ton stok BBM dengan harga lama.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 Desember 2008, 13:38 WIB

Liputan6.com, Tulungagung: Setelah pemerintah menurunkan harga premium dan solar, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sepi dari konsumen. Berbeda dengan penurunan harga 1 Desember lalu, kali ini praktis tidak ada lonjakan konsumen. Kondisi ini membuat pengelola SPBU meradang. Sebab ditengah stok premium maupun solar melimpah, pemerintah mendadak menurunkan harga. Kerugian pun menanti pengelola pom bensin.

Rata-rata sejumlah SPBU mengalami kerugian stok 30 ton hingga 50 ton baik premium maupun solar. Sebab sehari sebelumnya sebagian SPBU sudah mendapat pasokan dari Pertamina meski tidak ada permintaan.

Bagi pengelola SPBU, kompensasi yang diberikan Pertamina nantinya tidak serta merta membuat kerugian bisa ditekan. Sebab dengan penurunan mendadak seperti ini, masyarakat belum banyak yang tahu sehingga lonjakan pembelian BBM tidak terjadi.

Sementara itu, pengemudi angkutan desa di Tulungagung, mengaku tidak akan menurunkan tarif sebelum solar turun menjadi Rp 4.500 per liter.(IAN/Danang Sumirat)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya