Liputan6.com, Pontianak: Puluhan bencong tampil memukau para penonton dalam Festival Kreasi Waria 2001 di sebuah hotel berbintang di Pontianak, Kalimantan Barat, baru-baru ini. Bayangkan saja, para waria asal Pontianak dan Singkawang itu unjuk kebolehan dalam mengenakan kebaya tradisional atau kreasi di atas cat walk. Uniknya, sebelum tampil, penyelenggara mewajibkan mereka merias wajah selama 30 menit di hadapan dewan juri.
Ketika tampil, para waria yang berkebaya itu terlihat sangat luwes dan anggun. Tak aneh, soalnya sebagian besar peserta sehari-harinya berprofesi sebagai pekerja di salon-salon kecantikan dan rias pengantin. Dengan begitu, mereka menguasai betul tentang masalah tata rias wajah dan cara berbusana. Sementara sebagian besar penonton adalah rekan-rekan mereka. Bahkan, para penonton tampak antusias memberikan dukungan saat rekannya tampil di atas panggung.
Seorang penyelenggara mengatakan, lomba tersebut terbagi dalam dua kelompok usia. Kelompok pertama adalah waria berusia 18 hingga 30 tahun yang mengenakan kebaya kreasi. Sedangkan waria berumur 30 sampai 50 tahun berkebaya nasional atau tradisional. Seusai lomba, perwakilan waria tersebut mengharapkan perhatian berbagai kalangan atas nasib mereka. Para bencong itu juga menyayangkan kurangnya kepedulian pemerintah daerah setempat terhadap mereka.(ANS/Amien Alkadrie)
Ketika tampil, para waria yang berkebaya itu terlihat sangat luwes dan anggun. Tak aneh, soalnya sebagian besar peserta sehari-harinya berprofesi sebagai pekerja di salon-salon kecantikan dan rias pengantin. Dengan begitu, mereka menguasai betul tentang masalah tata rias wajah dan cara berbusana. Sementara sebagian besar penonton adalah rekan-rekan mereka. Bahkan, para penonton tampak antusias memberikan dukungan saat rekannya tampil di atas panggung.
Seorang penyelenggara mengatakan, lomba tersebut terbagi dalam dua kelompok usia. Kelompok pertama adalah waria berusia 18 hingga 30 tahun yang mengenakan kebaya kreasi. Sedangkan waria berumur 30 sampai 50 tahun berkebaya nasional atau tradisional. Seusai lomba, perwakilan waria tersebut mengharapkan perhatian berbagai kalangan atas nasib mereka. Para bencong itu juga menyayangkan kurangnya kepedulian pemerintah daerah setempat terhadap mereka.(ANS/Amien Alkadrie)