Liputan6.com, Bangka: Setelah kelahiran Provinsi Banten awal Oktober, dua kabupaten di Sumatra Selatan, Bangka dan Belitung, juga dipersiapkan menjadi provinsi baru pada 24 Oktober mendatang. Namun, masyarakat setempat menilai proses untuk melahirkan provinsi itu lamban lantaran rekomendasi yang diajukan le Gubernur Sumatra Selatan juga terlambat.
Bupati Bangka Eko Maulana Ali menilai lambatnya rekomendasi Gubernur Sumatra Selatan menjadi salah satu kendala bagi mereka. Padahal, masyarakat di sana sudah memperjuangkan terbentuknya provinsi ini sejak 30 tahun silam.
Menjelang disahkannya Rancangan Undang-undang pembentukan provinsi Bangka-Belitung, masyarakat setempat di dua pulau itu kini mulai berbenah termasuk melengkapi fasilitas penunjang. Misalnya Bupati Belitung Ishak Zainuddin yang lebih memprioritaskan peningkatan sumber daya manusia di wilayahnya. Sampai sejauh ini infrastruktur di Pulau Bangka dan Belitung masih dalam taraf persiapan.
Pulau Bangka kini berpenduduk 916 ribu jiwa dan 66 persen di antaranya adalah petani lada putih berkualitas ekspor. Sebanyak 70 persen produksi lada nasional berasal dari pulau itu dan diharapkan dengan peningkatan SDM di sana, bisa mengantisipasi merosotnya kualitas lada yang terjadi dalam setahun terakhir. Harga lada saat ini mencapai Rp 20 ribu per kilogram.(PIN/Yuke Mayaratih dan Dwi Nindyas)
Bupati Bangka Eko Maulana Ali menilai lambatnya rekomendasi Gubernur Sumatra Selatan menjadi salah satu kendala bagi mereka. Padahal, masyarakat di sana sudah memperjuangkan terbentuknya provinsi ini sejak 30 tahun silam.
Menjelang disahkannya Rancangan Undang-undang pembentukan provinsi Bangka-Belitung, masyarakat setempat di dua pulau itu kini mulai berbenah termasuk melengkapi fasilitas penunjang. Misalnya Bupati Belitung Ishak Zainuddin yang lebih memprioritaskan peningkatan sumber daya manusia di wilayahnya. Sampai sejauh ini infrastruktur di Pulau Bangka dan Belitung masih dalam taraf persiapan.
Pulau Bangka kini berpenduduk 916 ribu jiwa dan 66 persen di antaranya adalah petani lada putih berkualitas ekspor. Sebanyak 70 persen produksi lada nasional berasal dari pulau itu dan diharapkan dengan peningkatan SDM di sana, bisa mengantisipasi merosotnya kualitas lada yang terjadi dalam setahun terakhir. Harga lada saat ini mencapai Rp 20 ribu per kilogram.(PIN/Yuke Mayaratih dan Dwi Nindyas)