Pada gempa Aceh yang berkekuatan 9,2 skala Richter pada 26 Desember 2004, Pulau Simeuleu bagian utara naik 1,5 meter. Lalu ketika gempa Nias 8,7 SR pada 2005 giliran Simeuleu bagian selatan naik 1,5 meter. Kedua gempa besar itu, ujar Danny, sedikit sekali mempengaruhi daerah tengah. Namun "Simeuleu Saddle" itu selama ini diketahui masih menyimpan energi dan diperkirakan akan pecah dalam waktu dekat.
Advertisement
Menurut Danny, sepanjang Aceh-Nias ada sekitar delapan segmen patahan besar termasuk patahan Sumatra di darat yang masih memiliki potensi untuk menimbulkan gempa sampai 7 SR. Soal segmen-segmen patahan di perairan barat Bengkulu seperti segmen Mentawai, tambah Danny, masih banyak memiliki potensi energi yang bisa memicu gempa sampai 8,9 SR. "Waktunya saya tidak tahu. Tapi memang tahunan bahkan lebih dari 10 tahun bisa juga. Makanya yang kita perlukan adalah kesiapsiagaan terhadap bencana," kata Danny.
Sebelumnya Badan Meteorologi dan Geofisika mengumumkan telah terjadi gempa pada Rabu kemarin pukul 15.08.32 WIB pada titik lintang dan bujur 2.58 LU - 95.99 BT, 42 kilometer Baratlaut Sinabang, Nanggroe Aceh Darussalam di kedalaman 30 kilometer, berkekuatan 6,6 SR. Namun kemudian kekuatan gempa yang menelan tiga korban tewas itu diralat menjadi 7,3 SR. Sementara itu US Geological Survey (USGS) menyebutkan kekuatan gempa tersebut sebesar 7,4 SR.(TOZ/ANTARA)