Kawin Kontrak, Surfing, dan Beladiri Pisau

Kawin kontrak antara remaja belia dan turis Arab di Puncak Cisarua bukan isapan jempol. Mereka menikah siri dengan nilai kontrak Rp 5 hingga Rp 10 juta.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Februari 2009, 23:06 WIB
Liputan6.com, Bogor: Selentingan cerita kawin kontrak di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat, ternyata bukan isapan jempol. Kawin kontrak terjadi antara remaja perempuan setempat dengan turis Arab. Perkawinan berakhir tatkala waktu liburan turis dari Arab selesai. Biasanya selama 10 hari hingga tiga bulan.

Kawin kontrak terjadi usai musim haji. Fenomena kawin kontrak membuat turis Arab betah tinggal di sana. Apalagi, cuaca wilayah Cisarua yang punya ketinggian 650-1.100 meter di atas permukaan laut ini cukup mendukung. Suhu rata-rata 20,5 derajat Celsius. Ini berbeda dengan negeri asal mereka yang panas.

Fenomenam ini memunculkan istilah "musim Arab". Musim Arab identik dengan musim rezeki bagi warga Cisarua. Nilai kontrak Rp 5 juta hingga Rp 20 juta. Namun harga bisa naik jika si perempuan punya paras elok. Sebelum menikmati "surga" dunia, kedua pasangan diharuskan mengucap janji di depan penghulu alias nikah siri.

Kawin kontrak sebenarnya fenomena yang terjadi di banyak daerah. Di Kalimantan, wanita Indonesia kawin kontrak dengan pria dari Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan yang bekerja di perusahaan kayu. Di Jepara, Jawa Tengah, juga nyaris serupa. Yang beda, mereka hidup serumah tanpa ikatan resmi alias kumpul kebo.

Jika Cisarua dan Jepara surganya turis asing menikmati "tubuh" perempuan pribumi, Bali menjadi pemuas bagi para peselancar. Maklum, pesona pantai di Pulau Dewata berpasir putih yang indah dan ombak yang mendebarkan. Tidak heran, sejumlah pantai jadi arena berselancar bagi surfer lokal dan surfer asing.

Wisatawan yang ingin belajar surfing tak perlu repot-repot membawa peralatan. Mereka bisa menyewa papan surfing dan pelatihan singkat dari instruktur yang banyak bertaburan di pantai. Pengunjung hanya perlu belajar selama setengah jam sebelum nanti bisa meliuk-liuk di atas ombak pantai. Tarifnya tak terlalu mahal.

Pelatihan akan jadi sia-sia jika turis tak memiliki nyali besar. Butuh keberanian untuk mendeketai bahkan bergumul dengan ombak. Namun penggemar surfing pun tak pernah surut, meski sarat tantangan dan berakibat fatal. Rasa takut dan letih akan terbayar jika mereka sudah menari-nari mengikuti guliran ombak yang membawanya ke pesisir.

Nyaris sama dengan surfing, keindahan beragam bentuk pisau juga menyimpan kesadisan dan kematian. Hampir setiap suku dan daerah memiliki pisau khas sebagai sarana bela diri, berburu, dan bekerja. Pisau bisa menjadi jahat di tangan yang salah. Tapi bisa menjadi bodyguard yang kuat, ketika dimanfaatkan dengan positif.

Kenikmatan dan keindahan pisau inilah yang kemudian membuat beberapa laki-laki “jatuh cinta” untuk mendalaminya sebagai beladiri. Banyaknya penggemar pisau memunculkan komunitas dan terbentuklah kumpulan beladiri. Anggotanya bukan berlatih membunuh lawan, tapi bagaimana menaklukkan pisau sesuai keinginan pemilik.

Tentu saja dibutuhkan latihan intensif untuk menguasai pisau. Sejumlah teknik pun dikembangkan. Mulai dari memegang pisau seperti handle grip dan reverse grip, hingga teknik menyerang yang tak hanya menusuk lurus ke depan tapi juga menyayat dengan sabetan, mengiris, menebas, dan menikam musuh.(IKA/Tim Eksis)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya