Teror Bom di Hotel Alila Jakarta

Ancaman bom kembali menggegerkan beberapa daerah di Tanah Air. Forum majelis agama di Indonesia mengutuk keras peledakan rumah ibadah.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Juli 2001, 07:12 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Bom kembali mengancam sejumlah daerah di Tanah Air. Di Jakarta, teror bom terjadi di Hotel Alila yang berseberangan dengan Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Pecenongan, Jakarta Pusat, Rabu (25/7). Menurut Kepala Kepolisian Resor Jakpus Komisaris Besar Matheus Salempang, seorang penelepon gelap mengancam akan meledakkan bom tersebut dalam waktu 45 menit. Setelah diselidiki, ternyata pernyataan itu hanya pepesan kosong.

Penumpang di Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur, juga gempar karena isu bom. Kepanikan bermula dari penemuan tas yang diduga berisi bom. Tas kain hitam ukuran sedang itu dititipkan seseorang tak dikenal di Warung Telekomunikasi Arema Makmur di seberang terminal. Karyawan wartel mengatakan, seorang pria meletakkan tas misterius tadi kemudian menelepon seseorang di Manado, Sulawesi Utara. Kemudian dia menitipkan tas tersebut dan bergegas ke luar wartel.

Karena curiga, tas itu kemudian dipindahkan ke depan wartel. Petugas Gegana dan anggota Kepolisian Sektor Cakung, Jaktim mengamankan lokasi sekitar pukul 12.00 WIB. Petugas Gegana berusaha menjinakkan tas itu setelah meminta penumpang menyingkir dari lokasi tersebut. Hasilnya, ternyata tas itu tak meledak. Keterangan sementara menyebutkan tas mencurigakan itu hanya berisi pakaian. Tapi, barang bukti itu tetap dibawa ke Markas Besar Gegana Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Sedangkan di Surabaya, Jawa Timur, ancaman bom terjadi berawal ketika seorang kurir bersepeda motor memberikan sebuah bingkisan kepada seorang pembantu di rumah Jalan Rungkut Asri Utara Blok 11 Nomor 45, Surabaya. Akhirnya, bungkusan tersebut diledakkan oleh Tim Penjinak Bahan Peledak untuk mengetahui isi bingkisan tersebut. Sayangnya, setelah diledakkan bingkisan tersebut hanya berisi dua buah kaus anak-anak. Teror bom tersebut adalah yang ke-15 kali terjadi di Surabaya dalam sebulan terakhir.

Sementara itu, forum majelis agama mengutuk keras tindakan perusakan rumah ibadah, khususnya peledakan bom di Gereja Santa Anna dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan di kawasan Jakarta Timur. [Baca: Dua Gereja di Jakarta Dibom]. Forum tersebut menilai perbuatan itu hanya dilakukan orang-orang biadab yang tidak berperikemanusiaan dan tak ber-Tuhan. Penegasan tersebut dikemukakan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Dien Syamsuddin di Jakarta, hari ini.

Menurut Dien, tak ada motif agama dalam tindakan perusakan beberapa rumah ibadah. Namun, pengeboman tersebut diduga berkaitan dengan situasi sosial politik di Tanah Air. Oleh karena itu, forum mendesak pemerintah khususnya TNI/Polri untuk mengusut peledakan dan menghukum para pelaku seberat-beratnya. Forum antarorganisasi agama itu juga mengimbau umat beragama tak terpancing aksi tersebut.

Dien menambahkan, forum majelis agama juga mengajak semua umat berdoa bersama agar para korban dan keluarga tabah menghadapi cobaan tersebut. Pertemuan itu dihadiri MUI, Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Perwalian Umat Buddha Indonesia, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya