Perang Tipat Bantal, Ungkapan Syukur Warga Bali

Tradisi warga adat Kapal, Kabupaten Badung yang disebut aci rah pengangon ini adalah dengan saling lempar di sepanjang jalan di depan pura desa. Dua jenis makanan sumbangan warga desa menjadi senjata. Tipat dan bantal.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Oktober 2008, 13:18 WIB
Liputan6.com, Badung: Apa yang Anda bayangkan bila ratusan warga Bali saling lempar di jalanan? Ternyata itu bukan bentrok atau tawrusan melainkan tradisi ungkapan syukur atas berkah panen yang melimpah.

Tradisi warga adat Kapal, Kabupaten Badung yang disebut aci rah pengangon ini adalah dengan saling lempar di sepanjang jalan di depan pura desa. Dua jenis makanan sumbangan warga desa menjadi senjata. Tipat dan bantal. Makanya sering disebut juga perang tipat bantal.

Setengah jam perang berlangsung. Warga bersalaman dan bersuka cita. Tak ada kemarahan. Cuma kesenangan belaka. Penonton pun kegirangan.

Upacara persembahyangan mengiringi perang tipat bantal. Lewat tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini, warga adat Kapal percaya Tuhan akan menganugerahkan kesuburan bagi lahan pertanian mereka.(TOZ/Putu Setiawan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya