Menoreh Getah Karet Sebelum Sekolah

Anak-anak di Desa Tumiang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, harus bekerja menoreh getah karet untuk menambah biaya sekolah. Kesulitan mereka mengenyam pendidikan masih harus ditambah dengan perjalanan selama dua jam untuk meraih ilmu.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Juli 2008, 07:12 WIB
Liputan6.com, Bengkayang: Sekolah kini seakan menjadi kebutuhan yang tidak terjangkau. Setidaknya ini yang dirasakan warga desa terisolasi Tumiang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan berkebun. Semangat bersekolah dibayangi pesimisme ketidakmampuan memenuhi biaya.

Bahkan untuk menambah biaya sekolah, anak-anak harus ikut bekerja menoreh karet. Ini pula yang dilakoni Natalie, siswa sekolah menengah pertama. Ia membantu orangtuanya sejak mentari nampak. Tiap torehan adalah buah kesabaran dan ketelitian karena taruhannya adalah kualitas getah. Setiap tetes getah karet begitu berharga demi biaya sekolah.

Usai bekerja, ia mandi di sungai. Namun aktivitas ini bukan sekadar bermain tapi juga membersihkan kulit yang gatal terpapar getah karet. Ini pun tak bisa berlama-lama karena tiba waktunya ke sekolah. Ia harus menempuh perjalanan dua jam untuk meraih ilmu. Sayangnya ketiadaan biaya bakal memupuskan cita-cita Natalie mengenyam bangku pendidikan selanjutnya. "Sampai tamat SMA ndak mampu," kata Sahriah, ibunda Natalie.

Putus sekolah menjadi peristiwa yang lazim mungkin bukan hanya di Bengkayang tapi juga di pelosok Tanah Air lain. Demikian pula desa terisolasi. Berdasarkan data jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat World Vision Indonesia, diperkirakan lebih dari 600 ribu anak setiap tahun putus sekolah.(YNI/Anastasya Putri dan Erwin Arief)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya