Bahkan untuk menambah biaya sekolah, anak-anak harus ikut bekerja menoreh karet. Ini pula yang dilakoni Natalie, siswa sekolah menengah pertama. Ia membantu orangtuanya sejak mentari nampak. Tiap torehan adalah buah kesabaran dan ketelitian karena taruhannya adalah kualitas getah. Setiap tetes getah karet begitu berharga demi biaya sekolah.
Usai bekerja, ia mandi di sungai. Namun aktivitas ini bukan sekadar bermain tapi juga membersihkan kulit yang gatal terpapar getah karet. Ini pun tak bisa berlama-lama karena tiba waktunya ke sekolah. Ia harus menempuh perjalanan dua jam untuk meraih ilmu. Sayangnya ketiadaan biaya bakal memupuskan cita-cita Natalie mengenyam bangku pendidikan selanjutnya. "Sampai tamat SMA ndak mampu," kata Sahriah, ibunda Natalie.
Advertisement
Putus sekolah menjadi peristiwa yang lazim mungkin bukan hanya di Bengkayang tapi juga di pelosok Tanah Air lain. Demikian pula desa terisolasi. Berdasarkan data jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat World Vision Indonesia, diperkirakan lebih dari 600 ribu anak setiap tahun putus sekolah.(YNI/Anastasya Putri dan Erwin Arief)