Liputan6.com, Kuala Lumpur: Malam itu, Selasa, 15 Juli, sejarah baru dalam politik dan media di Malaysia lahir. Ada dua hal penting terjadi malam itu. Pertama, media TV Malaysia (baca: media-media utama) berani menampilkan Datuk Seri Anwar Ibrahim yang selama 10 tahun terakhir tak "diizinkan" tampil di media Maysia.
Kedua, hal lain yang tak kalah serunya, Menteri Penerangan Malaysia Datuk Ahmad Shabery Cheek "berani" tampil berdebat dengan Anwar soal kenaikan harga BBM. Acara bertajuk "Hari ini kerajaan dibentuk, esok harga minyak turun 50 sen" merupakan acara debat antara kedua tokoh ini yang disiarkan secara langsung sepanjang satu jam.
Sungguh sebuah sejarah baru untuk Malaysia. Tak ada yang menduga bahwa acara yang disiarkan di TV3 dan TV9 ini benar-benar bisa berlangsung mengingat selama ini acara berbau debat dan menantang kebijakan pemerintah adalah hal tabu bagi media Malaysia. Jangankan menyiarkan acara debat, menampilkan tokoh oposisi saja sangat jarang terjadi.
Karena itu, acara debat pada 15 Juli kemarin menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan, sekaligus jawaban atas kehausan rakyat Malaysia atas sebuah fungsi media dalam proses demokratisasi.Tak heran bila seorang kolumnis ternama Malaysia Karim Raslan dalam tulisannya di harian Sun mendeklarasikan acara debat itu sebagai kemenangan seluruh rakyat Malaysia.
Tantangan berdebat secara terbuka dan langsung di depan publik sudah lama diajukan Anwar, tokoh yang juga penasihat Partai Keadilan Rakyat (PKR).
Adalah Shabery Cheek yang kemudian berinisiatif menghadap PM Badawi dan menyatakan kesiapan untuk menerima tantangan berdebat Anwar. Saat itu, Shabery menyatakan, pemerintah harus menjelaskan kepada rakyat karena saat ini masyarakat hanya mendengar satu sisi saja yaitu dari pihak oposisi. Pemerintah tak boleh diam. Shabery bahkan akan menerima konsekuensi dicopot dari jabatan jika dalam penampilannya dinilai gagal.
Karena Shabery bisa meyakinkan PM Badawi bahwa ia akan siap, ijin itu pun diberikan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah siapa Shabery? Karir politiknya di UMNO terbilang hijau. Di usia kepala 40, ia boleh dibilang hanya seorang politisi yunior jika dibandingkan para politisi lain yang telah malang-melintang di dunia politik Malaysia.
Malam itu saat menyaksikan acara debat tersebut, buat saya tak masalah siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kedua tokoh senior dan junior itu tampil maksimal dengan saling "menjatuhkan" argumen sang lawan dengan elegan. Saling sindir, saling serang. Semuanya dilakukan dengan cerdas. Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah, yang ada hanyalah kemenangan. Kemenangan rakyat Malaysia. Besar harapan agar acara semacam ini dilembagakan dan tidak berpulang pada inisiatif atau keberanian orang per orang saja.
Indonesia telah lama melampaui hal-hal semacara ini dibandingkan dengan negara tetangga. Perjalanan 10 tahun reformasi membuat acara debat menjadi hal biasa. Namun tetap ada pelajaran baru yang kita petik di sini: sekali lagi, generasi muda menjadi pencetak sejarah baru yang mencerahkan. Hal lain, semoga para menteri kita pun bisa mencontoh Menteri Penerangan Shabery, dan tak hanya menyerahkan semua perdebatan di TV pada juru bicara presiden. (Rosianna Silalahi)