Liputan6.com, Ambon: Buntut aksi sweeping Batalyon Gabungan II TNI di kawasan Kebun Cengkeh, Ambon, 14 Juni silam, yang menewaskan 22 jiwa dan mencederai 25 orang, terus mengundang protes. Sejumlah warga, baru-baru ini, menuturkan kesaksian mereka atas insiden tersebut. Umumnya, mereka mengungkapkan keberingasan para aparat keamanan dalam menghadapi warga. [Baca: Sweeping Batalyon Gabungan Menewaskan Tiga Penduduk Ambon ].
Seorang saksi, Nyonya Wapini, menyatakan, saat itu, ia sedang berjalan sambil membawa bendera merah putih. Namun, --tepat di depan pos penjagaan-- ia dihadang oleh sejumlah pasukan Yon Gab TNI. Tiga dari para tentara berteriak akan menembak jika terus berjalan. Namun, Wapini tak mempedulikan hal itu dan terus maju. Kemudian, ketiganya menodongkan senjata dan merampas bendera dari tangan Wapini. "Bendera ini sudah tak dipakai lagi disini," ujar ketiganya sambil menginjak-injak bendera tersebut.
Sementara, seorang saksi lainnya, Enal, mengaku mendapat sejumlah siksaan seperti dipukul, dipopor dengan senapan, dan diinjak-injak saat berada di dalam truk pasukan Yon Gab TNI. Sedangkan saksi Idrus mengungkapkan, para anggota Yon Gab TNI mengacak-acak Poliklinik Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Bahkan, tanpa rasa kemanusiaan, mereka menyuruh seluruh pasien keluar tanpa menggunakan busana. Kontan, tak sedikit para wanita menjerit histeris dan memprotes tindakan tak senonoh tersebut.
Insiden memalukan itu bermula ketika pasukan Yon Gab TNI yang terdiri dari kesatuan Marinir, Pasukan Khusus TNI Angkatan Udara, dan intelijen, menuding warga di sekitar kawasan Kebun Cengkeh telah menyerang ke kawasan Karang Panjang, Ambon. Namun, tudingan itu langsung ditolak oleh warga. Hal itu juga memancing kemarahan dan memicu baku tembak antara pasukan Yon Gab TNI dan warga. Alhasil, puluhan warga tewas dalam insiden tersebut. (ANS/Sahlan Heluth)
Seorang saksi, Nyonya Wapini, menyatakan, saat itu, ia sedang berjalan sambil membawa bendera merah putih. Namun, --tepat di depan pos penjagaan-- ia dihadang oleh sejumlah pasukan Yon Gab TNI. Tiga dari para tentara berteriak akan menembak jika terus berjalan. Namun, Wapini tak mempedulikan hal itu dan terus maju. Kemudian, ketiganya menodongkan senjata dan merampas bendera dari tangan Wapini. "Bendera ini sudah tak dipakai lagi disini," ujar ketiganya sambil menginjak-injak bendera tersebut.
Sementara, seorang saksi lainnya, Enal, mengaku mendapat sejumlah siksaan seperti dipukul, dipopor dengan senapan, dan diinjak-injak saat berada di dalam truk pasukan Yon Gab TNI. Sedangkan saksi Idrus mengungkapkan, para anggota Yon Gab TNI mengacak-acak Poliklinik Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Bahkan, tanpa rasa kemanusiaan, mereka menyuruh seluruh pasien keluar tanpa menggunakan busana. Kontan, tak sedikit para wanita menjerit histeris dan memprotes tindakan tak senonoh tersebut.
Insiden memalukan itu bermula ketika pasukan Yon Gab TNI yang terdiri dari kesatuan Marinir, Pasukan Khusus TNI Angkatan Udara, dan intelijen, menuding warga di sekitar kawasan Kebun Cengkeh telah menyerang ke kawasan Karang Panjang, Ambon. Namun, tudingan itu langsung ditolak oleh warga. Hal itu juga memancing kemarahan dan memicu baku tembak antara pasukan Yon Gab TNI dan warga. Alhasil, puluhan warga tewas dalam insiden tersebut. (ANS/Sahlan Heluth)