Liputan6.com, Jakarta: Departemen Perhubungan meminta klarifikasi menyusul berhentinya beberapa jalur penerbangan Adam Air. Untuk itu, Dephub memanggil direksi dan pemegang saham Adam Air. Demikian diungkapkan Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Senin (17/3).
Pernyataan ini menyusul kemelut dalam tubuh Adam Air. Sebelumnya dua pemegang saham Adam Air yaitu PT Global Transport Service dan PT Bright Star Perkasa berencana menarik sahamnya. Tapi justru rencana ini dibantah pengacara kedua perusahaan tersebut.
Advertisement
Belakangan, beberapa jalur penerbangan Adam Air berhenti. Direktur Utama Adam Air Adam Adhitya Suherman membantah pihaknya menghentikan operasi. Adam Air hanya memangkas jumlah pesawat dari 22 unit menjadi 10 unit yang beroperasi sejak Senin ini [baca: Adam Air Kritis, Tiket Tak Berlaku].
Inilah yang harus dituntaskan pemerintah. Jangan sampai kemelut bisnis di Adam Air menambah ketidakpercayaan publik terhadap keselamatan penerbangan di Tanah Air. Apalagi melihat selama hampir lima tahun beroperasi, Adam Air hampir selalu dililit masalah.
Bisnis Adam Air dimulai Desember 2003 lewat tangan keluarga Suherman melalui PT Adam Skyconnection Airlines. Keluarga Suherman dinilai nekat apalagi mereka menerapkan penerbangan berbiaya murah dengan digawangi wajah-wajah baru yang belum mempunyai pengalaman bisnis di bidang ini.
Dalam perjalanannya, Adam Air seringkali bermasalah mulai dari keterlambatan penerbangan, tergelincir ketika mendarat, dan batal terbang. Peringatan keras diberikan. Tragedi di awal 2007, pesawat mereka juga jatuh di perairan Majene. Semua penumpang hilang dan dinyatakan tewas.
Berbagai kecelakaan membuat Dephub memberi peringkat tiga pada perusahaan ini. Artinya, syarat keselamatan terbangnya minimal. Jika tak ada perbaikan, operasi Adam Air bisa dibatalkan. Meski peringkatnya kemudian naik, kecelakaan masih saja menimpa maskapai ini.
Di tengah persoalan yang melilit, Bhakti Investama membeli 50 persen saham Adam Air melalui dua anak perusahaannya PT Global Transport Service dan PT Bright Star Perkasa pada April 2007. Hampir setahun bekerja sama, Bhakti Investama dikabarkan hengkang. Kini, Adam Air kembali limbung karena kesulitan dana dan mencari investor baru. Akankah Adam Air bisa selamat lagi?(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)