Liputan6.com, Situbondo: Bangkai pohon besar dan sampah serta lumpur masih berserakan di jalan-jalan protokol di Kota Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (9/2). Benda-benda ini terseret banjir yang menerjang Situbondo petang kemarin. Menurut penuturan sejumlah warga, ketinggian banjir mencapai hingga dua meter.
Selain membuat lalu lintas lumpuh, banjir juga mengahancurkan fasilitas sosial dan umum, tidak terkecuali stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Genangan air juga membuat jaringan listrik padam dan ribuan sambungan telekomunikasi tak berfungsi. Banjir pun mengakibatkan ribuan rumah warga rusak, bahkan ratusan lainnya rata dengan tanah [baca: Situbondo Lumpuh, Hujan Masih Turun].
Advertisement
Banjir bandang yang menerjang kota ini tak pandang bulu. Rumah Sakit Elizabeth juga turut menjadi korban. Fasilitas rumah sakit hancur dan obat-obatan raib terseret arus. Akibatnya, sejak Jumat malam sebagian pasien akhirnya memilih pulang. Sejumlah jembatan di sepanjang Sungai Sampeyan Baru dan Sungai Plalangan yang melintas Kota Bondowoso dan Situbondo hancur tersapu banjir.
Banjir di Bondowoso dan Situbondo terjadi akibat hujan yang terus menerus mengguyur kawasan ini selama dua hari terakhir. Akibatnya, tanggul Sungai Plalangan dan Sampeyan Baru jebol. Luapan banjir diduga karena hulu sungai, yakni hutan di lereng Gunung Argopuro, gundul. Sementara pada saat yang sama di muara sungai terjadi gelombang pasang sehingga air meluap dan menerjang kawasan kota.
Menurut keterangan warga, air mulai datang sekitar pukul 18.00 WIB. Air yang bercampur lumpur langsung masuk ke dalam rumah. Tidak hanya warga biasa yang terkena dampaknya, rumah kelurga Wakil Bupati Situbondo Suroso terendam air sehingga mereka harus diungsikan dengan menggunakan perahu karet.
Kawasan perkotaan adalah daerah yang paling parah terkena dampak banjir karena lokasi Sungai Sampeyan Baru yang meluap berada di tengah kota. Selain menggenangi rumah, banjir juga sempat memutus ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Bondowoso dan Situbondo. Peristiwa banjir bandang seperti ini adalah yang kedua kalinya. Pada tahun 2002 Kota Situbondo juga dilanda banjir. Penyebabnya diyakini akibat gundulnya hutan di lereng Gunung Argopuro
Sementara itu, pascabanjir warga Kota Situbondo sejak pagi hari mulai membersihkan puing-puing rumah yang hancur diterjang banjir bandang. Warga masyarakat pun bergotong royong membantu dan membersihkan sampah yang terbawa arus air. Dengan perasaan sedih pemilik rumah mulai mengais-ngais barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kawasan pusat kota Situbondo mengalami kerusakan paling parah. Diperkirakan 300 rumah hancur disapu banjir bandang.
Dilaporkan pula, sedikitnya tujuh orang tewas. Tetapi sampai saat ini warga belum mendapatkan bantuan apa pun. Tempat pengungsian pun belum ada sehingga warga yang rumahnya hancur untuk sementara menumpang pada tetangga atau kerabat yang rumahnya masih bisa ditempati.
Di antara fasilitas umum yang rusak akibat banjir bandang di Situbondo adalah sekolah. Akibatnya, kegiatan belajar-mengajar pun ditiadakan. Berdasarkan data sementara dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Situbondo, tercatat sembilan sekolah dasar rusak berat, sementara empat sekolah menengah pertama dan dua sekolah menengah atas berada dalam kategori rusak. Meski begitu diharapkan proses belajar-mengajar dapat kembali normal Rabu mendatang.
Di tempat lain, banjir akibat luapan Sungai Kedung Larangan di sepanjang Desa Kalianyar Bangil, Pasuruan, Jatim belum sepenuhnya surut akibat genanagn air laut pasang. Sedikitnya 300 rumah di daerah itu terendam air. Menurut warga, banjir kali ini terbesar sepanjang kurun waktu lima tahun. Pasalnya, genangan air luapan sungai bercampur dengan air laut.
Ketinggian air di sepanjang jalan desa mencapai hampir satu meter. Namun, air yang masuk ke rumah-rumah warga hanya seukuran lutut orang dewasa karena sebagian rumah warga telah ditinggikan. Kendati begitu, aktivitas warga sempat terhenti. Mereka hanya bisa menunggu hingga banjir benar-benar surut. Permintaan agar pemerintah segera melakukan pengerukan di sepanjang muara sungai kembali disuarakan warga.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)