Liputan6.com, Jakarta: Takdir, maut, jodoh memang telah menjadi takdir Tuhan dan tak dapat dihindari manusia. Di pagi yang hening, sekitar 06.05 WIB, tokoh angkatan 1945, Roeslan Abdulgani harus kehilangan istri tercinta, Sihwati Nawangwulan.
Menurut Roeslan, yang juga tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sihwati, 85 tahun, meninggal karena menderita penyakit alzheimer sejak 1990. Sebelumnya, tahun 1995, Sihwati juga menjalani operasi tumor. Selain meninggalkan Roeslan, almarhumah juga meninggalkan lima orang anak, sepuluh cucu, dan lima cicit.
Dari pengamatan SCTV, sejak pagi hingga siang hari, sejumlah anggota keluarga dan seluruh kerabat almarhumah telah berkumpul di rumah duka di Jalan Diponegoro Nomor 11, Jakarta Pusat. Selain itu, terlihat juga Sri Edi Swasono, Des Alwi, dan beberapa fungsionaris PDI-P seperti Soetardjo Soerjoguritno dan Arifin Panigoro.
Kepada wartawan, Roeslan mengaku sangat bangga dengan Sihwati yang telah ikut berjuang di masa perang kemerdekaan pertama dan kedua, antara tahun 1945-1950. Selain itu, wanita kelahiran Surabaya, 5 Mei 1916 itu juga aktif di Pergerakan Indonesia Muda dan sempat bertempur memperebutkan Surabaya (1945) bersama Laskar Gerilya. Oleh karena itu, pada tahun 1992, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 98, pemerintah Indonesia menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Gerilya kepada Sihwati.
Tahun 1967-1971, Sihwati juga pernah terpilih sebagai Ketua United Nation Women`s Association dan mendapat penghargaan dari Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa U Than. Sewaktu perjuangan pembebasan Irian Barat tengah berkobar, Sihwati juga ikut dalam barisan sukarela. Ketika zaman kolonial, almarhumah pernah menjadi guru di sekolah partikelir Perguruan Nasional dan Perguruan Rakyat.
Bila tak ada aral melintang, jenazah akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, siang ini. Rencananya, bertindak sebagai inspektur upacara adalah mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono.(ORS/Tri Ambarwati dan Hendro Wahyudi)
Menurut Roeslan, yang juga tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sihwati, 85 tahun, meninggal karena menderita penyakit alzheimer sejak 1990. Sebelumnya, tahun 1995, Sihwati juga menjalani operasi tumor. Selain meninggalkan Roeslan, almarhumah juga meninggalkan lima orang anak, sepuluh cucu, dan lima cicit.
Dari pengamatan SCTV, sejak pagi hingga siang hari, sejumlah anggota keluarga dan seluruh kerabat almarhumah telah berkumpul di rumah duka di Jalan Diponegoro Nomor 11, Jakarta Pusat. Selain itu, terlihat juga Sri Edi Swasono, Des Alwi, dan beberapa fungsionaris PDI-P seperti Soetardjo Soerjoguritno dan Arifin Panigoro.
Kepada wartawan, Roeslan mengaku sangat bangga dengan Sihwati yang telah ikut berjuang di masa perang kemerdekaan pertama dan kedua, antara tahun 1945-1950. Selain itu, wanita kelahiran Surabaya, 5 Mei 1916 itu juga aktif di Pergerakan Indonesia Muda dan sempat bertempur memperebutkan Surabaya (1945) bersama Laskar Gerilya. Oleh karena itu, pada tahun 1992, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 98, pemerintah Indonesia menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Gerilya kepada Sihwati.
Tahun 1967-1971, Sihwati juga pernah terpilih sebagai Ketua United Nation Women`s Association dan mendapat penghargaan dari Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa U Than. Sewaktu perjuangan pembebasan Irian Barat tengah berkobar, Sihwati juga ikut dalam barisan sukarela. Ketika zaman kolonial, almarhumah pernah menjadi guru di sekolah partikelir Perguruan Nasional dan Perguruan Rakyat.
Bila tak ada aral melintang, jenazah akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, siang ini. Rencananya, bertindak sebagai inspektur upacara adalah mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono.(ORS/Tri Ambarwati dan Hendro Wahyudi)