Liputan6.com, Bandung: Pelaksana Tugas Rektor Institut Pemeritahan Dalam Negeri (IPDN) Johanis Kaloh menyatakan, kejadian yang menimpa Yogi Riyadi akibat kecelakaan dan kelalaian. Demikian dikatakan Johanis kepada wartawan di Kampus IPDN, Jatinangor, Jawa Barat, Kamis (21/6).
Yogi menderita luka dalam di bagian kornea mata kanan usai dipukul dengan topi pengasuhnya. Saat itulah, mata kanan mahasiswa angkatan 2003 asal Pekanbaru, Riau, itu terkena emblem yang terbuat dari logam. Namun Munawir, pengasuh yang diduga memukul korban, membantah hal tersebut. Orangtua Yogi juga membantah peristiwa yang menimpa Yogi merupakan salah bentuk kekerasan di Kampus IDPN [baca: ].
Kekerasan tampaknya tak bisa lepas dari lembaga pendidikan yang mencetak calon pamong praja ini. Sebelumnya, kasus kekerasan yang berujung pada kematian juga terjadi. Kasusnya hingga kini masih berlangsung dan menyeret pejabat kampus untuk berurusan dengan aparat penegak hukum.
Atas peristiwa itu, Kampus IPDN masuk dalam penilaian tim evaluasi dari pemerintah. Sejumlah opsi terkait masa depan IPDN diutarakan, yang paling keras adalah menutup lembaga ini. Kendati disebut kecelakaan dan kelalaian, kekerasan yang baru terjadi seakan menegaskan IPDN tidak pernah belajar atas kasus-kasus sebelumnya [baca: ].(BOG/Taufik Hidayat)
Yogi menderita luka dalam di bagian kornea mata kanan usai dipukul dengan topi pengasuhnya. Saat itulah, mata kanan mahasiswa angkatan 2003 asal Pekanbaru, Riau, itu terkena emblem yang terbuat dari logam. Namun Munawir, pengasuh yang diduga memukul korban, membantah hal tersebut. Orangtua Yogi juga membantah peristiwa yang menimpa Yogi merupakan salah bentuk kekerasan di Kampus IDPN [baca: ].
Kekerasan tampaknya tak bisa lepas dari lembaga pendidikan yang mencetak calon pamong praja ini. Sebelumnya, kasus kekerasan yang berujung pada kematian juga terjadi. Kasusnya hingga kini masih berlangsung dan menyeret pejabat kampus untuk berurusan dengan aparat penegak hukum.
Atas peristiwa itu, Kampus IPDN masuk dalam penilaian tim evaluasi dari pemerintah. Sejumlah opsi terkait masa depan IPDN diutarakan, yang paling keras adalah menutup lembaga ini. Kendati disebut kecelakaan dan kelalaian, kekerasan yang baru terjadi seakan menegaskan IPDN tidak pernah belajar atas kasus-kasus sebelumnya [baca: ].(BOG/Taufik Hidayat)