Ujian Nasional SMA Digelar Serentak

Mulai hari ini ujian nasional untuk SMA digelar serentak di seluruh Indonesia. Di beberapa daerah pengawasan terhadap peserta ujian terlihat masih longgar, sementara di Jakarta semakin diperketat.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 April 2007, 14:46 WIB
Liputan6.com, Denpasar: Ujian nasional untuk siswa sekolah menengah atas dan sederajat digelar serentak di seluruh Indonesia mulai hari ini (17/4). Di SMA Negeri 2 Denpasar, Bali, pengawasan terlihat sangat longgar sehingga siswa dengan leluasa menggunakan telepon genggam. Padahal, menurut Kepala Sekolah SMAN 2 Denpasar Gusti Raka, pihaknya sebelumnya sudah menyampaikan larangan membawa telepon seluler bagi peserta ujian.

Pengawasan yang longgar terhadap peserta ujian juga terlihat di SMAN 1 Denpasar. Hal itu terbukti dengan masih adanya sejumlah siswa yang diizinkan membawa tas ke dalam kelas dan meletakkannya di atas meja.

Lain halnya dengan di Jakarta, jalannya ujian terlihat mendapat pengawasan yang ketat. Ujian nasional kali ini dipantau oleh tim independen dan tim dari sejumlah universitas. Selain memantau pelaksanaan, tim ini juga memantau distribusi soal ujian agar tidak terjadi kebocoran [baca: Ujian Nasional SMA Dimulai].

Ketatnya pengawasan ujian juga terlihat di SMA 2 Kendari, Sulawesi Tenggara. Guna mengantisipasi adanya kecurangan peserta ujian, tim pengawas menggeledah siswa sebelum masuk ruangan ujian. Satu per satu siswa diabsen dan diperiksa kantong celana dan baju serta tas sekolah.

Pengawas ujian bahkan memulangkan seorang peserta ujian, Waode Helda, yang datang terlambat 20 menit dengan alasan sakit. Waode disarankan untuk mengikuti ujian susulan.

Sementara di Sidoarjo, Jawa Timur, ujian nasional kali ini dijalani sejumlah siswa korban lumpur dengan penuh keprihatinan. Hal itu terlihat di Madrasah Aliyah Khalid bin Walid, Porong. Jika tahun lalu kondisi sekolah dinilai cukup layak melaksanakan ujian nasional, tahun ini ujian digelar dalam kondisi apa adanya.

Dua ruangan sekolah tidak dapat digunakan karena sudah terendam lumpur. Ditambah lagi saat ini lumpur juga sudah menggenangi halaman sekolah mereka. Tak ayal, kondisi ini membuat para siswa menjadi terganggu untuk berkonsentrasi menyelesaikan ujian. Tahun ini tercatat hanya 18 siswa sekolah ini yang mengikuti ujian nasional.

Kesedihan juga dirasakan siswa SMAN 2 Muaro Bungo, Jambi, setelah sekolah mereka dini hari tadi hangus dilalap api. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, namun nyaris tidak ada yang bisa diselamatkan. Sebanyak 12 ruang belajar, ruang kepala sekolah, empat laboratorium, dan perpustakaan musnah terbakar. Siang ini sebanyak 380 siswa kelas tiga yang akan mengikuti ujian nasional terpaksa dipindahkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Muaro Bungo.

Sedangkan di Palembang, Sumatra Selatan, banyak peserta ujian yang harus melewati genangan banjir untuk menuju sekolah mereka. Pasalnya, hujan deras yang mengguyur sejak tadi malam menyebabkan sebagian Kota Palembang tergenang air. Beruntung banjir hanya menggenangi ruang kelas dan tidak membasahi naskah soal ujian, sehingga ujian tetap berjalan lancar mulai pukul 08.00 WIB.

Lain lagi halnya di Surabaya, Jatim. Dua pelajar sebuah SMA swasta terpaksa mengikuti ujian di kantor polisi karena terlibat kasus penganiayaan sesama pelajar SMA sehingga korbannya meninggal, beberapa waktu silam. Tersangka berinisial TS dan DR menyelesaikan soal ujian di Markas Kepolisian Resor Surabaya Utara dengan tetap diawasi guru serta petugas Dinas Pendidikan Nasional Kota Surabaya.

Menurut Kepala Bagian Bina Mitra Polres Surabaya Utara Komisaris Polisi Mansyur Solikin, kebijakan yang diberikan polisi lebih disebabkan karena pertimbangan kemanusiaan. Apalagi tersangka berstatus pelajar dan masih memiliki masa depan.

Penyelenggaraan ujian nasional kali ini tetap tak lepas dari kontroversi. Banyak pihak yang menolak keberadaan ujian yang menjadi syarat kelulusan pelajar ini. Pasalnya, banyak siswa yang sebenarnya berprestasi di sekolah, ternyata tidak lulus dalam ujian nasional [baca: Pemerintah Diminta Membatalkan Hasil UAN].

Bahkan, kritik terhadap pelaksanaan ujian nasional juga datang dari kalangan Parlemen. Sejumlah anggota Dewan berharap, ujian nasional sebaiknya bukan untuk menentukan kelulusan, tetapi untuk mengetahui standar mutu sekolah bersangkutan.

Ada dua versi standar kelulusan ujian nasional kali ini, yaitu nilai rata-rata minimal lima untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Atau memiliki nilai minimal empat pada salah satu mata pelajaran, dengan nilai dua mata pelajaran lainnya minimal enam.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya