Liputan6.com, Sumedang: Lexy Giroth, Dekan Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN, Kamis (12/4) malam, dipastikan telah dijemput polisi untuk diperiksa di Markas Kepolisian Resor Sumedang, Jawa Barat. Lexy diperiksa berkaitan dengan keterangan Iyeng Supandi, karyawan sebuah yayasan kematian di Bandung, Jabar, yang menyatakan Lexy merupakan orang yang memerintahkan penginjeksian formalin ke jenazah Cliff Muntu. Hingga berita ini ditulis, Lexy masih diperiksa [baca: Iyeng Supandi Ditetapkan Sebagai Tersangka].
Sementara itu, unjuk rasa mengecam kekerasan di Kampus IPDN terus berlanjut di berbagai daerah. Di depan Kampus Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, para mahasiswa mengecam premanisme berkedok disiplin. Karena menurut Dosen IPDN Inu Kencana, kekerasan di kampus itu telah memakan korban jiwa puluhan orang. Untuk itu para mahasiswa menuntut polisi menangkap para pelakunya. Tak hanya para siswa senior, namun dosen dan rektor juga harus diadili.
Aksi mengecam kekerasan di IPDN juga terjadi di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Puluhan mahasiswa berkeliling kota sambil membawa spanduk dan berorasi. Mereka juga menuntut pemerintah agar membubarkan IPDN karena tak lagi menjadi penghasil pelayan warga, tetapi menjadi "institut pembunuhan dalam negeri".
Di Denpasar, Bali, puluhan mahasiswi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Marhaen menggelar unjuk rasa sekitar di Patung Catur Muka. Mereka menuntut Pemerintah Provinsi Bali tak lagi mengirim siswa ke IPDN. Aksi berjalan damai. Selain orasi, mahasiswi juga membagi-bagikan bunga kepada warga sebagai simbol penolakan kekerasan dalam pendidikan.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Sementara itu, unjuk rasa mengecam kekerasan di Kampus IPDN terus berlanjut di berbagai daerah. Di depan Kampus Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, para mahasiswa mengecam premanisme berkedok disiplin. Karena menurut Dosen IPDN Inu Kencana, kekerasan di kampus itu telah memakan korban jiwa puluhan orang. Untuk itu para mahasiswa menuntut polisi menangkap para pelakunya. Tak hanya para siswa senior, namun dosen dan rektor juga harus diadili.
Aksi mengecam kekerasan di IPDN juga terjadi di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Puluhan mahasiswa berkeliling kota sambil membawa spanduk dan berorasi. Mereka juga menuntut pemerintah agar membubarkan IPDN karena tak lagi menjadi penghasil pelayan warga, tetapi menjadi "institut pembunuhan dalam negeri".
Di Denpasar, Bali, puluhan mahasiswi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Marhaen menggelar unjuk rasa sekitar di Patung Catur Muka. Mereka menuntut Pemerintah Provinsi Bali tak lagi mengirim siswa ke IPDN. Aksi berjalan damai. Selain orasi, mahasiswi juga membagi-bagikan bunga kepada warga sebagai simbol penolakan kekerasan dalam pendidikan.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)