Dengan cakar tajamnya, rajawali membuat sarang dan mencari makan untuk menghidupi betina dan anak-anaknya. Rajawali juga melambangkan jiwa perkasa, tangguh, tak kenal lelah, dan merdeka. Ia bisa menjelma di setiap insan karena anugerah kodrati dan tuntutan keadaan. Rajawali juga bisa lahir dari kalangan sudra atau rakyat jelata. Ia akan menjadi bagian dari sejarah agung karena keperkasaan kepakan sayap dan cengkeraman cakarnya.
Bila raungan mesin dari sejumlah speedboat sempat membahana di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, ini tak lepas dari kisah seekor rajawali yang dikabarkan hilang. Kehadiran kawanan burung dari berbagai spesies ini bertujuan mencari keberadaan sang rajawali, kamerawan SCTV Mochammad Guntur Syaifullah [baca: Guntur Meninggalkan Nilai untuk SCTV].
Advertisement
Seorang jurnalis yang semula bisa saja berupa burung nuri atau burung pipit, dalam beberapa saat keadaan menuntutnya menjadi seekor rajawali. Sang raja burung nan perkasa ini senantiasa mencengkeram berkilo-kilo daging di mana pun. Sayap lebarnya akan terus mengepak menjelajahi seluruh tempat. Dan naluri membimbingnya untuk terus terbang lalu kemudian pulang ke sarang.
Kisah hilangnya sang rajawali membuat sanak famili diselimuti dukacita mendalam. Bila kawanan burung-burung lain berjuang di laut untuk mencari keberadaan rajawali, maka sanak familinya hanya bisa larut dalam kesedihan seraya terus mengumandangkan keagungan firman Allah.
Pada kenyataannya salat, zikir, dan doa menjadi satu-satunya kekuatan sanak famili rajawali untuk menyambut keputusan apa pun dari Yang Maha Mematikan. Jauh di dalam relung hati, mereka percaya sang rajawali sedang menjalani kodratnya.
Sejarah penjelajahan sang rajawali dimulai sejak sebelas tahun silam. Semula ia juga tak ubahnya bagai burung nuri yang pemalu dan takut terbang. Tapi keadaan membentuk nalurinya hingga berani terbang lebih tinggi dan mencari daging-daging segar hingga ke daerah-daerah berbahaya. Rajawali telah memperlihatkan jati diri yang sebenarnya.
Namun pada akhirnya kodrat membimbingnya ke atas bongkahan besi hangus bernama Kapal Motor Levina I persis pada Ahad, 25 Februari 2007. ia bersama rajawali-rajawali lainnya terbang karena sebuah amanah untuk mendapatkan sekerat daging.
Pada akhirnya pencarian terhadap sang rajawali tuntas. Burung liar dengan sayap lebar dan kuku runcing itu ditemukan telah kaku. Burung itu dilarikan ke Rumah Sakit Port Medical Center, Tanjungpriok, Jakarta Utara, 27 Februari silam.
Sang rajawali telah memenuhi sebagai umat di bumi sehingga harus memasuki alam lain, yang lebih tenteram dan abadi. Keesokan harinya, sang burung rajawali dibawa ke sangkarnya di kawasan Klender, Jaktim, untuk dipertemukan dengan sanak familinya. Tapi alam fana yang ditinggalkannya seakan tidak ikhlas. Ratusan burung lain, termasuk rajawali-rajawali yang lebih gagah dan sakti ikut larut dalam kesedihan.
Kendati begitu yang jelas, sanak famili rajawali tersebut sangat bersyukur masih bisa melihat jasad sang rajawali yang bisa memandang lama wajah agungnya. Keharuan dan rasa iba berhamburan tatkala jasad sang rajawali diagungkan di hadapan burung-burung lain.
Seiring dengan itu sejumlah ungkapan duka tak henti berembus ke udara dan memayungi jasad sang rajawali. Pada hakikatnya meninggalnya sang rajawali bukan akhir dari kisah kehidupannya. Sebab, ia cuma mengakhiri aktivitas sebagai umat di bumi. Rajawali berhenti di sebuah sarang dan berhenti mencari sekerat daging untuk sanak familinya.
Pada tahapan selanjutnya, sang rajawali justru mendapat kehidupan lain yang lebih tenteram, nyaman, dan abadi. Bagi sang rajawali, kematian merupakan pintu untuk menghantarkan jiwa perkasa, jiwa tangguh, jiwa tak kenal lelah, dan jiwa merdekanya untuk menyatu dengan cahaya-Nya.(AIS/Tim Potret SCTV)