Harga Kebutuhan Terus Naik, Masyarakat Pasrah

Harga berbagai kebutuhan pokok terus merangkak naik. Beban masyarakat akan bertambah lagi menyusul rencana kenaikan harga makanan dan minuman. Pemerintah tak mampu mengatur mekanisme pasar.

oleh Liputan6Diterbitkan 27 Januari 2007, 13:51 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Perlahan tapi pasti, berbagai harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Pemerintah tidak mampu berbuat banyak mengatur mekanisme pasar yang menentukan naik turunnya harga kebutuhan pokok. Bahkan operasi pasar yang terus diadakan, baru-baru ini, tak mampu menekan harga beras.

Berdasarkan pantauan reporter SCTV Dwi Anggia dari sejumlah pasar tradisional di Jakarta, para pedagang terpaksa menaikkan harga berbagai kebutuhan pokok, karena harga dari distributor juga sudah naik. Contoh, gula pasir naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.000 per kilogram, telur ayam dari Rp 8.000 naik Rp 8.500 per kilogram. Komoditas beras jenis IR 64 merangkak dari Rp 5.400 per satu kilogram menjadi Rp 5.600. Namun harga minyak goreng turun.

Untuk membantu masyarakat pemerintah mengadakan operasi pasar. Harga beras turun dari Rp 5.000 menjadi Rp. 3.700 per kilogram. Namun operasi pasar saja tidak sanggup menghadapi kenaikan harga beras. Salah satu alasannya karena beras yang dijual dalam operasi pasar mutunya rendah [baca: Harga Beras di Jakarta Masih Tinggi].

Beban masyarakat sepertinya akan bertambah seiring rencana kenaikan harga produk makanan dan minuman sampai 15 persen [baca: Harga Makanan dan Minuman Akan Naik]. Kenaikan akan terjadi mulai Februari mendatang. Produsen beralasan menaikkan harga produk karena harga bahan baku dan bahan bakar minyak, melonjak. Sementara Departemen Perdagangan mengaku tak bisa melarang karena menaikkan harga merupakan hak produsen.(KEN/Dwi Anggia)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya