Sukses Memasarkan Koi Hingga Benua Eropa

Kegagalan pertama mengirim ikan koi ke Jerman tidak membuat pasangan Ucy dan Sven Keller putus harapan. Koi hasil budidaya mereka kini sudah "terbang" sampai ke Eropa.

oleh Liputan6Diterbitkan 14 Januari 2007, 14:54 WIB
Liputan6.com, Bekasi: Berawal dari melihat pameran koi di Jerman sekitar akhir 2003, Ucy memutuskan merintis bisnis budidaya ikan yang dianggap pembawa keberuntungan itu. Wanita bernama lengkap Fauziah Latief Keller ini memulai bisnis di Indonesia bersama suaminya, Sven Keller. Jatuh bangun mereka mendirikan bisnis koi. Modal tekad dan ketekunan serta menggali ilmu dari seminar menjadikan Ucy dan Sven masuk jajaran pengusaha koi sukses.

Sven mengungkapkan, awalnya pernah coba-coba mengirim 150 ekor koi ukuran sepuluh dan 15 sentimeter ke Jerman, namun gagal karena kurang persiapan. Setelah 2004, mereka memutuskan membangun fasilitas kolam dan peralatan pendukung dengan menghabiskan biaya sekitar 225 euro. "Biaya ikan dan filter [penyaring] yang paling mahal," kata Ucy.

Selain membudidayakan ikan, keduanya juga memasarkan koi lokal dengan kualitas terbaik. Benih ikan mengambil dari breeder (pembiak) asal Jakarta, Sukabumi, dan Blitar. Jenis ikan koi yang ditawarkan beragam mulai dari Goromo, Kohaku, Kumonryu, Goshiki, dan Benikikokuryu. Sven mengungkapkan, ia menjual ikan koi dari paling murah Rp 250.000 ukuran 15 sentimeter sampai termahal Rp 15 juta per ekor. Beberapa ikan koi yang dibudidayakan, kata Sven, pernah meraih gelar juara pada kejuaraan bayi koi di Jakarta dan kejuaraan koi junior di Cibinong.

Kepekaan pasangan Sven dan Ucy dalam membaca selera pasar menjadi senjata andalan pemasaran koi. Sven mengatakan, penjual harus paham perbedaan pemasaran koi antara di Eropa dengan di Jepang. "Let say in Japanese standard the body shape it`s number one. For European standard maybe the colour of the pattern. The order it`s slightly different [Di Jepang, bentuk badan ikan menjadi standar utama sedangkan di Eropa mengutamakan warna ikan. Ada perbedaan standar pesanan]," papar Sven.

Pasangan suami istri tersebut mengembangbiakkan koi di lahan seluas 1.300 meter persegi di kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Mereka merekrut 17 warga setempat sebagai karyawan. Soal kunci sukses usaha koi Ucy dan suaminya, sebenarnya tak lepas dari sosok Sven yang asal Jerman, sehingga kontak jaringan pemasaran di negara Eropa cukup mudah dibuka. Selain itu, tentu saja didukung pengetahuan Sven tentang teknologi budidaya koi.

Ucy menjelaskan, pada tahun 2006, mereka telah mengirim sekitar 5.000 ikan ke Jerman, Swiss, dan Belanda. "Tapi, tahun ini saya yakin lebih banyak karena banyak order yang pending [ditunda]. Jadi kita menunggu musim panasnya mereka," tambah Ucy.

M. Syafii, seorang penggemar koi mengaku tertarik dengan ikan hasil budidaya Sven dan Ucy setelah melihat pameran di Situbondo, Jawa Timur. Ia menyukai aneka ragam warna koi yang dikembangbiakkan Ucy. "Makanya, pas kami datang lagi ke sini untuk melihat bagaimana perkembangan dan ingin konsultasi soal koi," papar Syafii yang berkunjung ke peternakan koi Ucy, bersama keluarganya.(KEN/Tim Usaha Anda)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya