Reporter SCTV Olivia Rosalia dalam ulasannya di Liputan 6 Petang Selasa (2/1) menjelaskan bahwa cuaca kini sedang buruk memang ya dan kondisi ini tak bisa dibantah. Tapi bukan berarti cuaca yang buruk bisa semudah itu dijadikan kambing hitam ketika musibah dan bencana terjadi.
Mengetahui ada ancaman badai dan gelombang berarti pihak yang memiliki otoritas harus tegas mengambil keputusan yang berpihak pada nyawa manusia. Pada kasus tenggelamnya KM Senopati Nusantara di perairan Kepulauan Masalembo di Laut Jawa misalnya. Penumpang bersaksi sudah mengingatkan cuaca tengah buruk namun toh pihak syahbandar tetap memberangkatkan kapal. Kapal pun akhirnya tenggelam. Dari sekitar 500 penumpang yang bisa dievakuasi baru 200 orang dengan sembilan di antaranya ditemukan tewas. Pemda Rembang bahkan menyiapkan kuburan massal karena menduga banyaknya korban.
Advertisement
Pada kasus terbaru, jatuhnya pesawat Adam Air yang hingga kini bangkainya belum diketahui. Pihak Angkasa Pura pun mengaku sudah mengingatkan cuaca tengah tidak bersahabat. Namun pesawat tetap berangkat. Hingga akhirnya nasib 102 penumpang termasuk awak pesawat belum jelas.
Itu baru ulasan dari sisi tidak tegasnya otoritas yang berwenang. Belum lagi masalah peralatan yang tidak memadai. Ada alat yang sudah ada namun tidak dirawat seperti alat deteksi dini tsunami di laut yang sempat dicuri hingga peralatan yang seharusnya dimiliki tapi nihil.
Tak jarang kita mengandalkan negara tetangga untuk tahu akan terjadinya bencana atau hanya untuk mengetahui letak kejadian. Anda ingat tentunya ketika gempa dan tsunami melanda Yogyakarta, justru peringatan dini muncul dari otoritas di Asia Pasific. Sedangkan untuk tahu lokasi jatuhnya pesawat Adam Air kini Indonesia justru diberi tahu Singapura. Rangkaian bencana dan musibah yang terjadi seharusnya memberi pelajaran bagi pemerintah dan otoritas yang berwenang agar tak ada lagi nyawa warganya melayang.(YYT/Tim Liputan 6 Pesawat)