Selembar Nyawa Willy Ditukar <i>Handphone</i>

Karena kepepet kehabisan uang akibat berjudi, Maman nekat mencuri uang di rumah tetangganya Siti Patimah. Maman membacok Willy dan Ihsan yang tak lain putra mantan gurunya demi sebuah telepon genggam.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 November 2006, 02:07 WIB
Liputan6.com, Serang: Nyawa manusia sepertinya sudah tak berharga bagi Maman Rohmansyah. Warga Carenang, Serang, Banten ini nekat menghabisi anak tetangganya Willy Setiawan demi sebuah telepon seluler. Tak hanya itu. Maman juga menganiaya adik korban hingga nyaris tewas.

Kejadian nahas itu terjadi di rumah keluarga Dedi Yuhana dan Evi Siti Patimah di Carenang pada 22 Oktober silam. Willy ditemukan dengan luka menganga di kepala dan punggung. Bocah yang baru berusia 11 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah Serang. Sementara adiknya Ihsan Daroain harus dirawat intensif karena menderita luka bacok sepanjang enam sentimeter di belakang kepala.

Jajaran Kepolisian Sektor Carenang segera meluncur ke tempat kejadian perkara dan mencari petunjuk. Polisi menemukan sebilah golok di belakang bangunan kantor desa yang berjarak 10 meter dari rumah korban. Namun sayang, tak banyak warga yang bisa memberikan keterangan karena tetangga dekat korban kebanyakan tengah mudik Lebaran.

Polisi mulai menemukan titik terang saat mendapat informasi dari seorang saksi bernama Ahmad. Berbekal keterangan Ahmad, polisi memusatkan penyelidikan kepada Maman Rohmansyah yang tinggal tak jauh dari rumah korban. Maman yang sempat kabur akhirnya dicokok di tempat persembunyiannya di Pasar Tambak Cikade, Serang.

Kepada polisi, Maman mengaku kehabisan uang lantaran berjudi. Di saat kepepet, pengangguran berusia 21 tahun ini berniat mencuri di rumah Evi Siti Patimah yang pernah menjadi gurunya di Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Carenang. Sayang, akal bulus tersangka tak berjalan mulus. Di rumah korban terdapat Willy dan Ihsan.

Tersangka pun segera mengubah rencananya. Dengan dalih hendak mengambil ijazah, Maman bisa leluasa masuk ke rumah korban. Maman yang semula bermaksud mencuri komputer segera mengalihkan sasarannya saat melihat sebuah telepon seluler. Maman beranggapan ponsel lebih mudah dicuri dan cepat laku di pasaran.

Willy yang curiga dengan tindak-tanduk Maman segera memberi tahu ibunya. Willy mengirim pesan pendek yang mengabarkan bahwa ada tamu yang meminta ijazah. Maman panik dan menyabetkan golok ke arah Willy dan Ihsan. Setelah mengambil handphone, Maman segera kabur meninggalkan kedua kakak-beradik yang terkapar tak berdaya. Willy akhirnya tewas di RSUD Serang.

Kematian Willy jelas menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga. Mereka tak percaya Willy yang berkepribadian tenang dan menyayangi orang tua serta adik-adiknya harus tewas mengenaskan. Evi pun tak habis pikir alasan Maman yang bekas siswanya sendiri bisa tega membunuh Willy yang tak berdaya.

Penyesalan mendalam dan rasa malu pun dirasakan keluarga tersangka. Ayah Maman masih sangsi anaknya bisa berbuat keji. Mereka berharap Maman bisa mendapat hukuman yang adil sesuai hukum. Maman bakal dijerat Pasal 339 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan yang disertai pemberatan dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya