Liputan6.com, Denpasar: Hari ini dunia memperingati empat tahun tragedi Bom Bali I yang menewaskan lebih dari 200 orang. Sebagian warga merayakan peristiwa gelap 12 Oktober ini dengan membentangkan kain putih sepanjang 12 kilometer sebagai simbol perdamaian. Selain itu ada juga acara doa bersama dan tabur bunga untuk arwah para korban.
Acara peringatan tragedi Bom Bali I sudah dimulai dengan kehadiran warga lokal dan turis asing di lokasi ledakan di kawasan Kuta atau yang dikenal dengan Ground Zero, sejak kemarin sore [baca: Ground Zero Bali Dibanjiri Bunga]. Puluhan orang memulai aksi membentangkan kain putih.
Menurut panitia, misi bertujuan mengajak setiap manusia untuk saling menghargai dan hidup dalam damai. "Kita juga membuat kafan untuk menguburkan masa lalu dan membuat kain putih untuk mengusung perdamaian, kesucian, dan kemurnian," kata salah seorang pendeta Bali.
Tidak sedikit peserta yang meneteskan air mata mengingat para korban. Ledakan dahsyat yang memporak-porandakan Diskotek Paddy`s Club dan Sari Club di kawasan Kuta, Oktober 2002 silam, juga membuat ratusan korban luka parah.
Pada hari yang sama, ratusan warga Australia memperingati tragedi Bom Bali I di Monumen Garuda Wisnu Kencana, Jimbaran. Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer memimpin acara ini. Farmer mengajak warga Australia belajar dari tragedi ini dan bersahabat dengan warga Indonesia.
Tidak ada yang bisa menyangkal Bom Bali adalah salah satu peristiwa yang mengubah persepsi tentang Islam. Bagi negara-negara yang warganya banyak menjadi korban, seperti Australia, muncul kekhawatiran terhadap Islam radikal.
Para pengebom yang membawa nama Islam dan jihad pada rangkaian aksi teror ini membuat Islam dan kaum muslim dianggap identik dengan terorisme. Namun, seiring dengan waktu, persepsi itu mulai berubah.
Saat peringatan Tragedi World Trade Center 9/11 sebulan silam misalnya, berita-berita tentang Islam dan terorisme menjadi santapan empuk media massa Australia. Karen Middleton dari pemberitaan pemerintah Australia mengakui menaruh perhatian pada berita-berita tentang Indonesia. Sebab, kedua negara bertetangga dan banyak warga Australia berkunjung ke Indonesia. "Terkadang pemberitaan itu positif terkadang negatif, tapi semoag kita dapat lebih saling memahami," kata dia.
Menteri Luar Negeri Alexander Downer dalam wawancara dengan SCTV dua wartawan lain dari Indonesia di Sydney, beberapa waktu silam, menampik masih ada persepsi Islam identik dengan terorisme. Dia memahami Islam terdiri dari banyak kelompok. Dia melihat Indonesia telah menunjukkan hal penting pada dunia sebagai negara dengan umat muslim terbesar, memiliki masyarakat yang beragam dan menganut demokrasi, serta tidak memberikan toleransi pada terorisme. "Ini adalah pesan yang baik bagi dunia," kata dia.
Sejumlah warga Australia yang ditemui juga mengemukakan berbagai pendapat. Seorang warga Melbourne berterus terang masih takut berlibur lagi di Indonesia. Saya sebetulnya ingin mengajak anak-anak ke sana karena sangat indah tapi, ya, saya khawatir," kata dia.
Seorang mahasiswi Australia yang lumayan fasih berbahasa Indonesia menegaskan kalau ada terorisme tidak berarti semua orang Islam berbahaya. "Itu goblok sekali," kata cewek berpenampilan punk ini.
Warga Melbourne lain mengatakan, tidak menyalahkan Indonesia untuk Bom Bali. Aksi teror bisa terjadi di mana saja, termasuk di Australia. "Jadi jangan khawatir, para turis akan kembali ke Indonesia," ujar pria setengah baya ini.
Kini para pelaku teror mulai diungkap dan dihukum. Pemerintah Australia pun menyatakan puas terhadap upaya pemerintah Indonesia menangani terorisme. Mudah-mudah rasa rasa itu bisa menghapus sentimen-sentimen negatif terhadap Islam dan Indonesia.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Acara peringatan tragedi Bom Bali I sudah dimulai dengan kehadiran warga lokal dan turis asing di lokasi ledakan di kawasan Kuta atau yang dikenal dengan Ground Zero, sejak kemarin sore [baca: Ground Zero Bali Dibanjiri Bunga]. Puluhan orang memulai aksi membentangkan kain putih.
Menurut panitia, misi bertujuan mengajak setiap manusia untuk saling menghargai dan hidup dalam damai. "Kita juga membuat kafan untuk menguburkan masa lalu dan membuat kain putih untuk mengusung perdamaian, kesucian, dan kemurnian," kata salah seorang pendeta Bali.
Tidak sedikit peserta yang meneteskan air mata mengingat para korban. Ledakan dahsyat yang memporak-porandakan Diskotek Paddy`s Club dan Sari Club di kawasan Kuta, Oktober 2002 silam, juga membuat ratusan korban luka parah.
Pada hari yang sama, ratusan warga Australia memperingati tragedi Bom Bali I di Monumen Garuda Wisnu Kencana, Jimbaran. Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer memimpin acara ini. Farmer mengajak warga Australia belajar dari tragedi ini dan bersahabat dengan warga Indonesia.
Tidak ada yang bisa menyangkal Bom Bali adalah salah satu peristiwa yang mengubah persepsi tentang Islam. Bagi negara-negara yang warganya banyak menjadi korban, seperti Australia, muncul kekhawatiran terhadap Islam radikal.
Para pengebom yang membawa nama Islam dan jihad pada rangkaian aksi teror ini membuat Islam dan kaum muslim dianggap identik dengan terorisme. Namun, seiring dengan waktu, persepsi itu mulai berubah.
Saat peringatan Tragedi World Trade Center 9/11 sebulan silam misalnya, berita-berita tentang Islam dan terorisme menjadi santapan empuk media massa Australia. Karen Middleton dari pemberitaan pemerintah Australia mengakui menaruh perhatian pada berita-berita tentang Indonesia. Sebab, kedua negara bertetangga dan banyak warga Australia berkunjung ke Indonesia. "Terkadang pemberitaan itu positif terkadang negatif, tapi semoag kita dapat lebih saling memahami," kata dia.
Menteri Luar Negeri Alexander Downer dalam wawancara dengan SCTV dua wartawan lain dari Indonesia di Sydney, beberapa waktu silam, menampik masih ada persepsi Islam identik dengan terorisme. Dia memahami Islam terdiri dari banyak kelompok. Dia melihat Indonesia telah menunjukkan hal penting pada dunia sebagai negara dengan umat muslim terbesar, memiliki masyarakat yang beragam dan menganut demokrasi, serta tidak memberikan toleransi pada terorisme. "Ini adalah pesan yang baik bagi dunia," kata dia.
Sejumlah warga Australia yang ditemui juga mengemukakan berbagai pendapat. Seorang warga Melbourne berterus terang masih takut berlibur lagi di Indonesia. Saya sebetulnya ingin mengajak anak-anak ke sana karena sangat indah tapi, ya, saya khawatir," kata dia.
Seorang mahasiswi Australia yang lumayan fasih berbahasa Indonesia menegaskan kalau ada terorisme tidak berarti semua orang Islam berbahaya. "Itu goblok sekali," kata cewek berpenampilan punk ini.
Warga Melbourne lain mengatakan, tidak menyalahkan Indonesia untuk Bom Bali. Aksi teror bisa terjadi di mana saja, termasuk di Australia. "Jadi jangan khawatir, para turis akan kembali ke Indonesia," ujar pria setengah baya ini.
Kini para pelaku teror mulai diungkap dan dihukum. Pemerintah Australia pun menyatakan puas terhadap upaya pemerintah Indonesia menangani terorisme. Mudah-mudah rasa rasa itu bisa menghapus sentimen-sentimen negatif terhadap Islam dan Indonesia.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)