Perdamaian di Timur Tengah Mati

Liga Arab menilai PBB terlalu lemah dalam menyikapi agresi Israel ke Palestina dan Lebanon yang telah merenggut banyak nyawa. Saat ini Israel kembali memperluas serangan darat untuk menumpas Hizbullah.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 Agustus 2006, 20:50 WIB
Liputan6.com, Kairo: Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kondisi ini membuat sejumlah pihak pesimistis. Bahkan, Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Mussa mengatakan, proses perdamaian di Timur Tengah telah mati. Demikian diungkapkan Mussa di Kairo, Mesir, saat wawancara melalui telepon, Selasa (1/8) petang.

Menurut Mussa, peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sangat diharapkan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, yakni dengan melakukan gencatan senjata. Namun, Mussa menambahkan, PBB terlalu lemah dalam menyikapi agresi militer Israel itu ke Palestina dan Lebanon. Kondisi ini mengakibatkan keadaan bertambah kacau.

Selama agresi Israel telah banyak jatuh korban terutama kalangan sipil. Serangan paling parah yang dilancarkan Israel adalah membombardir sebuah bangunan tiga lantai di Desa Qana, Lebanon bagian selatan. Dari 56 korban tewas, 37 di antaranya anak-anak [baca: Desa Qana Terus Digempur].

Hingga kini, Israel kembali memperluas serangan darat untuk menumpas Hizbullah. Serangan akan dilancarkan hingga radius 30 kilometer dari perbatasan atau hingga Sungai Litani dalam dua pekan mendatang. Negeri Zionis ini juga berencana membuat zona bebas Hizbullah dalam wilayah seluas 1,6 kilometer [baca: Israel Memperluas Serangan Darat].

p>Sementara di Tel Aviv, pemerintah Israel tengah menyusun paket perdamaian, khususnya dengan pejuang Palestina. Paket ini mencakup gencatan senjata, penghentian aksi teror, pembubaran dan pelucutan kelompok Hamas, serta pertukaran tawanan. Namun paket ini ditolak Hamas yang menyatakan tak ada kesepakatan apa pun dengan Israel.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya