Belum lama ini, Israel menjatuhkan 23 ton bom di sebuah kawasan pinggiran ibu kota Lebanon, Beirut. Serangan ini bertujuan membunuh pemimpin Hizbullah Syekh Sayyed Hassan Nasrallah yang dicurigai bersembunyi di dalam bungker. Namun gerilyawan Hizbullah mengatakan Nasrallah selamat dari serbuan Israel itu.
Dalam gempuran itu, pihak Tel Aviv mengklaim berhasil menghancurkan separuh dari persenjataan yang dimiliki kelompok Hizbullah. Sebaliknya, Kamis ini, sekitar 30 roket milik kelompok Syiah itu kembali menghantam sejumlah wilayah Israel meski tak menimbulkan korban jiwa. Sementara pertempuran di Avivim, sebuah desa di bagian utara Israel, menewaskan beberapa serdadu dan melukai delapan orang.
Advertisement
Sementara itu, seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap kedua belah pihak agar mengupayakan gencatan senjata tak digubris Israel. Sebab Amerika Serikat selaku pendukung Israel menolak penghentian tembak-menembak. Pemerintah Gedung Putih beralasan tak ada negosiasi dengan kelompok teroris.
Sebaliknya, pemerintah Negeri Adidaya menginginkan persenjataan kelompok Hizbullah segera dilucuti. Amerika juga mendesak perluasan kekuasaan pemerintah pimpinan Perdana Menteri Fuad Siniora atas Lebanon. Syarat utama lainnya adalah pembebasan dua prajurit Israel yang diculik pejuang Hizbullah [baca: Pasukan Israel Membombardir Lebanon Selatan]. Tiga syarat itulah yang diajukan untuk menghentikan agresi Israel ke Lebanon.
Pertempuran yang berkepanjangan itu menimbulkan aliran eksodus warga asing keluar Lebanon. Dan lebih dari setengah juta warga Lebanon juga mengungsi ke negara tetangga, seperti Suriah [baca: Warga Asing Eksodus dari Beirut].(ANS)