Liputan6.com, Bogota: Strategi memberantas narkotika tentu penuh rahasia. Kendati demikian, untuk kali pertama, sejumlah wartawan asing diizinkan melihat ajang latihan batalyon ketiga pasukan khusus Amerika Serikat yang tergabung dalam Pasukan Antinarkotika Kolombia di Markas Larandia, Kolombia, baru-baru ini. Latihan ini dipimpin 90 orang anggota pasukan khusus yang setengahnya adalah pelatih Pasukan Khusus Baret Hijau. Proyek bersandi Plan Colombia yang sedianya tuntas pada 24 Mei mendatang ini menelan biaya sebesar US$ 1,7 miliar.
Pasukan yang terdiri dari 800 orang prajurit tersebut berlatih dalam drama penggerebekan sebuah laboratoriun obat terlarang. Skenario berikutnya, aksi kekerasan tak terhindarkan. Sebelumnya, dua batalyon lain yang juga telah menyelesaikan pembekalan -berupa berbagai latihan di medan berbeda- telah dikirim bergabung dengan satuan khusus. Kala itu, pasukan beraksi menghancurkan ladang ganja di negara penghasil narkotika terbesar di dunia [Kolombia] tersebut.
Proyek ketiga batalyon dengan misi khusus buat Kolombia ini dibiayai pemerintah AS. Operasi yang menelan dana sebesar US$ 1,7 miliar itu banyak mengundang kontroversi. Dari sudut militer, Plan Colombia ini dianggap hanya akan membuka kembali pil pahit perang sipil bangsa Amerika Selatan selama 37 tahun.(ORS/Ipd)
Pasukan yang terdiri dari 800 orang prajurit tersebut berlatih dalam drama penggerebekan sebuah laboratoriun obat terlarang. Skenario berikutnya, aksi kekerasan tak terhindarkan. Sebelumnya, dua batalyon lain yang juga telah menyelesaikan pembekalan -berupa berbagai latihan di medan berbeda- telah dikirim bergabung dengan satuan khusus. Kala itu, pasukan beraksi menghancurkan ladang ganja di negara penghasil narkotika terbesar di dunia [Kolombia] tersebut.
Proyek ketiga batalyon dengan misi khusus buat Kolombia ini dibiayai pemerintah AS. Operasi yang menelan dana sebesar US$ 1,7 miliar itu banyak mengundang kontroversi. Dari sudut militer, Plan Colombia ini dianggap hanya akan membuka kembali pil pahit perang sipil bangsa Amerika Selatan selama 37 tahun.(ORS/Ipd)