Lupus adalah penyakit otoimun, yaitu penyakit yang muncul lantaran sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan, yang justru mengganggu kesehatan tubuh. "Di mana kekebalan tubuh pasien salah kenal sehingga organ tubuh sendiri dirusak oleh antibodi sendiri," papar dokter pemerhati lupus, Zubairi Djoerban. Lupus menyerang ginjal, kulit, sel darah putih, atau sendi. Perlu diperhatikan lupus bukan penyakit menular atau penyakit keturunan. Siapa pun bisa terserang. Lupus bisa dihindari dengan menerapkan pola hidup sehat, menjauhi alkohol, dan nikotin.
Flora Betyana, pengidap lupus mengaku hampir 18 tahun tidak pernah lepas dari masalah kesehatan. Dia sudah empat kali operasi jantung dan empat bulan menderita pendarahan tanpa henti. Sejak terserang lupus, satu bulan sekali Flora harus memeriksakan diri ke dokter. Hidup wanita berbadan subur itu pun tergantung pada obat. Jika terlambat memakan obat fatal akibatnya bagi Flora. Awal divonis lupus, Flora mengaku berobat dulu ke dokter syaraf, kemudian disarankan untuk tes darah. "Setelah diperiksa ada [lupus]," papar dia.
Advertisement
Penyakit lupus juga mengubah Tiara Savitri. Rentang waktu 1987 sampai 1989 merupakan masa suram bagi Tiara. Dia harus bergelut dengan lupus yang merusak berbagai organ vital tubuh. Sebagai orang dengan lupus atau odapus, Tiara ratusan kali bolak-balik masuk rumah sakit. Uang pun sudah terkuras jutaan rupiah. Meski Tiara mengaku sudah bebas dari keharusan mengonsumsi obat, lupus tetap mengancam hidupnya. "Bagaimana kekambuhan lupus, bisa terjadi kapan saja. Karena predikat lupus tetap melekat pada diri saya," kata Tiara.
Tidak ada ciri atau gejala khusus dari lupus. Dalam berbagai kasus lupus ditemukan beberapa gejala, seperti ruam merah pada wajah, rambut rontok, sariawan, dan kaki bengkak. Seseorang yang sakit berkepanjangan, penderita anemia berat, ginjal, atau terserang stroke pada usia muda, dan keguguran juga potensial terserang lupus. Untuk memastikan positif tidaknya penyakit itu perlu berulang kali pemeriksaan darah.
Perlu diketahui, penyakit lupus dikelompokkan dalam berbagai jenis dan tingkatan. Organ tubuh yang diserang pun berbeda-beda. Semua kondisi tersebut tergantung kondisi pasien. Pada lupus tingkat berat bisa mengakibatkan kelumpuhan, cacat, bahkan sampai kematian. Rekam medis selama ini, lima persen dari kasus lupus berujung kematian si pasien.
Sedangkan kasus lupus pada wanita dianggap sebagai penyebab keguguran. Walau begitu bukan berarti wanita penderita lupus divonis tidak dapat mempunyai keturunan. "Penderita lupus jangan takut hamil. Boleh hamil karena kandungan sehat, namun stamina harus dipertimbangkan dan dipersiapkan. Maksudnya jangan penyakit lupus sedang aktif kemudian hamil," ujar Jumhana Atmakusuma, dokter pemerhati lupus.
Menurut Yayasan Lupus Indonesia, angka 7.000 penderita lupus di Indonesia hanyalah fenomena gunung es. Sebab, jumlah keseluruhan pengidap lupus diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Jika anggota keluarga atau di sekitar lingkungan ada penderita lupus, janganlah dikucilkan. Soalnya, penderita lupus cenderung stres dan depresi. Sejauh ini belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit itu. Salah satu cara efektif untuk menolong adalah terapi psikologis. Selain itu, dukungan keluarga mutlak dibutuhkan agar para odapus tidak menyerah.(KEN/Teguh Dwi Hartono)