"Pinjaman sebelumnya untuk dua proyek sekitar 400 juta hingga 500 juta dolar. Sementara pinjaman baru sebesar 700 juta dolar ini untuk lima atau enam proyek," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz bersama sejumlah menteri di Jakarta, Selasa (12/4).
Paskah menambahkan, komitmen Bank Dunia untuk menggelontorkan utang kepada Indonesia sebesar US$ 400 juta itu akan dinegosiasikan sebelum Juni mendatang. Jadi, kalau permintaan utang baru ini disetujui maka pemerintah akan berutang ke Bank Dunia sekitar US$ 1,2 miliar. Sementara pinjaman ini sendiri terdiri dari pinjaman sejumlah program dan proyek infrastruktur. Di antaranya akan digunakan untuk proyek pengadaan air bersih, perbaikan jalan dan perbaikan infrastruktur lainnya.
Advertisement
Adapun total utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai US$ 134 miliar. Dari jumlah itu, pemerintah mengalokasikan pembayaran utang senilai Rp 139 triliun dari APBN 2006. Sedangkan untuk dana pendidikan hanya dialokasikan Rp 36 miliar dan dana kesehatan sekitar Rp 13 miliar.
Sementara itu, rencana pengajuan utang baru ini langsung mendapat kecaman dari Gerakan Aliansi Rakyat untuk Penghapusan Utang (Garpu). Menurut Binny Buchorie, aktivis Garpu, pemerintah dinilai tidak konsisten dalam mengatur beban keuangan negara. Sebab, kedatangan Wolfowitz seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi beban utang luar negeri.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)