Liputan6.com, Jakarta: Sekitar 200 massa pendukung Presiden Abdurrahman Wahid berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (26/4). Mereka menuntut DPR dibubarkan. Pasalnya, Wakil Rakyat itu hanya mau mengungkap dugaan keterlibatan Presiden Wahid dalam Kasus Buloggate-Bruneigate yang bernilai Rp 35 miliar saja.
Aksi pro-Gus Dur dan Megawati Sukarnoputri ini mengaku bernaung di bawah payung Solidaritas Masyarakat Panggilan Reformasi. Dalam orasinya, mereka menuntut DPR mengungkap kasus lain yang merugikan negara dengan kerugian yang jauh lebih besar. Di antaranya, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 145 triliun, biaya nonbudgeter Rp 2,8 triliun, Kasus Bank Bali, dan penyelewengan dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Bagi para demonstran, sejumlah kasus tadi jelas-jelas merugikan rakyat banyak. Apalagi, tambah mereka, kasus-kasus tersebut banyak melibatkan elite Golkar dan orde baru.
Sementara itu, Kantor DPD Golkar DKI, Cikini, Jakpus, juga didemo ratusan mahasiswa dari Forum Mahasiswa Selatan. Para mahasiswa itu menuntut supaya Golkar diadili dan dibubarkan, serta menyita semua asetnya. Menurut para mahasiswa itu, peningkatan eskalasi konflik elite ternyata tak terlepas dari upaya sistematis kelompok lama yang ingin kembali berkuasa.
Barisan pengunjuk rasa ini yang berasal dari beberapa universitas di kawasan selatan Jakarta. Mulai dari Universitas Pancasila, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gunadarma, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Jayabaya, Universitas Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional, hingga Universitas Dr Moestopo. Sekitar satu kompi polisi dari Kepolisian Resor Jakpus diturunkan mengawasi aksi unjuk rasa ini.(ORS/Christiyanto dan Gatot Setiawan)
Aksi pro-Gus Dur dan Megawati Sukarnoputri ini mengaku bernaung di bawah payung Solidaritas Masyarakat Panggilan Reformasi. Dalam orasinya, mereka menuntut DPR mengungkap kasus lain yang merugikan negara dengan kerugian yang jauh lebih besar. Di antaranya, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 145 triliun, biaya nonbudgeter Rp 2,8 triliun, Kasus Bank Bali, dan penyelewengan dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Bagi para demonstran, sejumlah kasus tadi jelas-jelas merugikan rakyat banyak. Apalagi, tambah mereka, kasus-kasus tersebut banyak melibatkan elite Golkar dan orde baru.
Sementara itu, Kantor DPD Golkar DKI, Cikini, Jakpus, juga didemo ratusan mahasiswa dari Forum Mahasiswa Selatan. Para mahasiswa itu menuntut supaya Golkar diadili dan dibubarkan, serta menyita semua asetnya. Menurut para mahasiswa itu, peningkatan eskalasi konflik elite ternyata tak terlepas dari upaya sistematis kelompok lama yang ingin kembali berkuasa.
Barisan pengunjuk rasa ini yang berasal dari beberapa universitas di kawasan selatan Jakarta. Mulai dari Universitas Pancasila, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gunadarma, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Jayabaya, Universitas Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional, hingga Universitas Dr Moestopo. Sekitar satu kompi polisi dari Kepolisian Resor Jakpus diturunkan mengawasi aksi unjuk rasa ini.(ORS/Christiyanto dan Gatot Setiawan)