Adapun para pelaku penyerangan kantor perusahaan penambangan emas dan tembaga yang berpusat di Amerika Serikat itu kini berada di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ternyata, mereka adalah sepuluh mahasiswa asal Papua. Penyidik pun masih meminta keterangan mereka. Sementara hingga berita ini ditulis belum ada keterangan dari pihak Freeport mengenai kejadian tersebut. Hanya saja, petugas keamanan masih menjaga ketat gedung tersebut. Bahkan, para wartawan yang hendak meliput dilarang masuk.
Sementara dari Papua dilaporkan, hingga siang ini warga masih memblokade jalan di Ridge Camp Mile Pos 72 Freeport, Tembagapura, Papua, masih berlangsung. Bahkan, jumlah pengunjuk rasa bertambah hingga mencapai ratusan orang. Aksi ini merupakan lanjutan protes para pendulang tradisional yang ditertibkan aparat keamanan. Dalam peristiwa itu tiga warga terluka akibat tembakan dan dua polisi terkena panah [baca: Karyawan Freeport Keluar dari Tembagapura].
Advertisement
Untuk mengantisipasi meluasnya aksi tersebut, pemerintah mulai hari ini meminta aparat keamanan untuk memperketat pengamanan di areal tambang. Dengan begitu, Freeport secara bertahap bisa kembali beroperasi. Alasannya, insiden yang terjadi kemarin tidak terkait dengan komitmen pembangunan Freeport, melainkan protes para penambang yang ditertibkan polisi.
Perlu diketahui, suku Dani di Timika, Papua, yang dituduh sebagai penambang liar sebenarnya hanya berusaha mengais sisa emas dari limbah yang dibuang PT Freeport ke aliran sungai. Ini sesuai kesepakatan kepala suku setempat dengan Freeport setelah pemberlakuan Otonomi Khusus di Papua.
Salah satu pendulang emas adalah Kieru Sitai. Untuk mendapatkan emas seberat empat hingga lima gram, dia mesti rela tinggal di tenda di sekitar sungai selama sepekan. Sitai menjual satu gram emas seharga Rp 70 ribu. Angka ini jelas tak seberapa nilainya jika dibandingkan dengan kekayaan emas Papua yang dikeruk oleh Freeport setiap harinya [baca: Suku Dani Pendulang Emas Tersisih Freeport].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)