Pesona Melayu Kota Pontianak

Banyak pemandangan indah ditemukan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dari aktivitas di tepian Sungai Kapuas, hingga keberadaan masjid berumur ratusan tahun.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Februari 2006, 08:44 WIB
Liputan6.com, Pontianak: Siapa yang tak mengenal Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Sungai terpanjang di Indonesia, yakni sekitar 1.200 kilometer. Aliran sungai ini mengaliri Kampung Beting, Pontianak. Tak mengherankan, bila warga di wilayah itu kebanyakan bekerja sebagai tukang sewa perahu, buruh, dan nelayan.

Layaknya, sopir-sopir bus yang memarkirkan busnya di terminal penumpang. Para tukang sewa perahu pun demikian. Menyandarkan perahu mereka di tepi Sungai Kapuas. Bagi Anda yang ingin menikmati kekhasan Kampung Beting atau Kampung Melayu Pontianak, tukang sewa perahu ini siap melayani. Dengan uang sebesar Rp 20 ribu, Anda bisa melihat aktivitas dan rumah-rumah warga.

Berbeda dengan rumah di darat, tempat tinggal warga Kampung Beting dibangun seperti panggung. Sebab, perkampungan ini dialiri Sungai Kapuas. Meski demikian, warga tak pernah mengenal banjir. Ini karena kontruksi rumah dirancang sedemikian rupa sehingga bebas dari banjir. Sayangnya, air sungai yang mengalir agak kotor. Warga pun hanya menggunakannya untuk mandi dan mencuci. Sedang untuk memasak, mereka memakai air hujan.

Sepanjang berkeliling Kampung Beting dengan perahu, kepala dan tangan Anda mesti diperhatikan. Soalnya, tinggi jembatan di kampung itu hanya beberapa sentimeter di atas kepala. Selain itu, jarak antarperahu yang melintas di perkampungan ini tak terlalu jauh. Sehingga memungkinkan tangan Anda terbentur perahu lain. Ciri khas dari Kampung Beting adalah jalan setapak yang terbuat dari kayu ulin dengan panjang 60 kilometer. Kabarnya, jalan ini adalah jembatan kayu terpanjang di dunia.

Tak jauh dari Kampung Beting, terdapat sebuah masjid berumur ratusan tahun yang terbuat dari kayu belian atau kayu besi. Masjid ini didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada 23 Oktober 1771. Masjid ini merupakan cikal bakal dari Kota Pontianak. Kedatangan Sultan Syarif ke kota ini guna menyebarkan agama Islam.

Enam tiang penyangga di dalam masjid merupakan ciri khas dari bangunan itu. Keberadaan Enam tiang itu sesuai dengan filosofi keimanan dari umat Islam, yakni rukun iman. Selain mendirikan masjid, Sultan Syarif membangun keraton yang dikenal dengan Istana Kadriah. Keraton ini dibangun dalam jangka waktu enam tahun, yaitu sekitar tahun 1778.

Di dalam istana, masih terdapat barang-barang peninggalan Sultan Syarif. Seperti Kaca Seribu yang merupakan cinderamata dari pemerintah Prancis, Alquran tulisan tangan Sultan Syarif Yusur yang berumur 200 tahun. Bangunan Istana Kadriah hampir seluruhnya bercat kuning, warna khas kerajaan-kerajaan Islam melayu. Gambar bulan bintang yang merupakan lambang Islam pun nampak di sekeliling istana. Begitu juga, kalimah Laaila ha illallah di ventilasi, misalnya.

Selain mengelilingi Istana Kadriah, anda bisa menikmati keindahan Sungai Kapuas. Di tempat itu disewakan sebuah perahu besar. Namun, sebelum berlayar lebih baik memesan makanan di dermaga. Sebab, sekali berkeliling bisa memakan waktu lebih dari satu jam dan pemilik perahu tidak menyediakan makanan berat maupun kecil. Di sepanjang Sungai Kapuas masih terlihat bentuk asli perkampungan Melayu. Kapal kecil maupun besar nampak lalu lalang di sungai ini. Di beberapa titik sungai terdapat pelabuhan.

Obyek wisata andalan di Pontianak yang juga terkenal adalah Tugu Khatulistiwa. Pontianak merupakan satu-satunya provinsi yang dilewati garis khatulistiwa atau terletak di dua belahan bumi: belahan utara dan selatan. Adapun ciri daerah yang dilewati garis khatulistiwa adalah curah hujan tinggi dan sinar matahari terus menerus.

Tugu khatulistiwa terletak di Kelurahan Batulayang, Kecamatan Pontianak Utara, sekitar lima kilometer dari pusat kota. Tugu itu terbuat dari kayu belian yang terdiri dari empat tonggak. Simbol anak panah menunjukkan arah utara dan selatan atau lintang nol dejarat. Tugu ini dibangun tim ekspedisi geografi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda tahun 1928.

Pada waktu itu, pengukuran mata angin tanpa menggunakan alat-alat canggih seperti satelit, melainkan berpatokan pada garis tegak lurus dan rasi bintang. Dalam setahun, matahari melintasi garis khatulistiwa sebanyak dua kali. Yakni, pada tanggal 21-23 Maret bergerak ke utara dan 21-23 September ke Selatan. Saat itu dinamakan titik kulminasi, yaitu saat matahari berada di garis bujur di tempat kita berdiri. Pada moment itulah kita tidak bisa melihat bayangan tubuh sendiri.(BOG/Winny Arnold)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya