Beras Mahal, Warga Terpaksa Makan Nasi Aking

Puluhan warga Kecamatan Kasemen, Serang, Banten terpaksa makan nasi aking karena sudah tak mampu membeli beras. Pemerintah daerah setempat melarang warga makan nasi aking, tapi tak mau membantu.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Januari 2006, 18:54 WIB
Liputan6.com, Serang: Belasan keluarga di Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Banten, terpaksa makan nasi aking karena sudah tak sanggup membeli beras yang harganya sudah Rp 4.000 per liter. Nasi aking adalah sisa-sisa nasi yang dikeringkan kemudian dimasak kembali. Demikian hasil pantauan koresponden SCTV Agus Faisal dari Kecamatan Kasemen, baru-baru ini.

Keluarga Marwi salah satu contohnya. Dalam satu hari, keluarga Marwi yang berjumlah 10 orang--suami dan delapan anak--membutuhkan dua kilogram nasi aking dengan harga Rp 1.000 per kg. Dengan makan nasi aking, menurut Marwi, biaya untuk makan keluarganya jadi lebih irit. "Kalau makan nasi, kami butuh empat liter beras per hari," kata Marwi.

Pemerintah Kabupaten Serang sebenarnya pernah meminta keluarga Marwi dan yang lainnya berhenti makan nasi aking karena alasan kesehatan. Sayangnya, permintaan tanpa diikuti pemberian bantuan, sehingga warga tak bisa menyanggupinya. "Delapan anak saya harus makan," kata Marwi, memberi alasan.(ICH)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya