Mayoritas penduduk Kampung Kebon Cilung Peucang hidup sebagai buruh tani dan tukang memetik kelapa. Marha, misalnya. Pria ini mengaku upah petik kelapa dalam sehari hanya cukup untuk membeli dua liter beras. Marha memperoleh upah Rp 75 untuk setiap butir kelapa yang dia petik. "Kalau anak makan, batur-nya (temannya) enggak makan," tutur Marha.
Bersama Marha, tak seorang pun warga Kampung Kebon Cilung Peucang terdaftar sebagai penerima dana bantuan langsung tunai. Mereka mengaku tak pernah didatangi petugas baik saat program dana kompensasi tahap satu maupun tahap dua digulirkan pemerintah. Masyarakat setempat hanya pernah memperoleh bantuan beras untuk kaum miskin yang harus dibeli seharga Rp 22 ribu untuk 24 liter beras. Itu pun jarang diambil karena mereka tak memiliki uang.
Advertisement
Tak mengherankan, jika kemudian ditemukan kasus gizi buruk di Kampung Kebon Cilung Peucang. Dia adalah Anwar. Kondisi bocah berumur empat tahun ini sungguh memprihatinkan. Sepanjang hari anak ini kerap menangis karena telah hampir sebulan berak darah. Juheti, sang ibu, hanya bisa menenangkan rengekan Anwar dengan cara mengayun di gendongan. Dia tak membawa anaknya ke pusat kesehatan masyarakat karena tak punya uang untuk biaya perawatan. Apalagi untuk dirawat di rumah sakit. "Enggak punya uang karena suami saya enggak kerja," tutur Juheti.
Oktober tahun silam, Badan Pusat Statistik memang mendata penduduk yang layak menerima dana kompensasi BBM di Pandeglang, Banten. Namun hanya 193 kepala keluarga yang didaftar. Itu pun hanya sampai Kecamatan Pagelaran [].(YAN/Agus Faisal)