Bantuan Makanan dan Obat Mengalir ke Jember

Sumbangan berupa pakaian, obat-obatan, selimut dan makanan diberikan sejumlah elemen masyarakat kepada korban banjir bandang di Jember, Jatim. Pemerintah Provinsi Jatim juga memberikan bantuan Rp 200 juta.

oleh Liputan6Diterbitkan 04 Januari 2006, 02:42 WIB
Liputan6.com, Jember: Kenyamanan mulai dirasakan para pengungsi korban banjir bandang di Jember, Jawa Timur, baru-baru ini. Sejumlah anak dan bocah di bawah lima tahun dipindahkan ke ruangan yang lebih bersih. Mereka kini juga sudah mengenakan pakaian ganti yang lebih hangat. Para pengungsi juga menerima bantuan berupa obat-obatan dan susu dalam kemasan kaleng.

Bantuan diberikan sejumlah elemen masyarakat yang bersimpati atas penderitaan para pengungsi. Meski begitu, sejauh ini sumbangan tersebut belum diberikan merata kepada para korban banjir.

Simpati juga datang dari mahasiswa yang terus menggalang dana di jalanan. Pun demikian dengan komunitas wanita pria (waria). Mereka menampung bantuan yang diberikan oleh para pengguna kendaraan di sejumlah ruas jalan protokol di Kota Jember. Dan, dari upaya yang dilakukan mereka berhasil menggalang dana hingga mencapai Rp 3 juta. Uang ini rencananya disalurkan langsung kepada para korban air bah.

Para korban banjir bandang boleh senang dengan bantuan tersebut. Namun sebagian di antaranya mengaku trauma atas musibah itu. Sulit bagi mereka melupakan bencana yang menewaskan lebih dari 50 orang tersebut. "Saya lari sama anak saya dan cucu saya. Terus saya nangis lewat sini malam-malam itu pak," ujar Juwati menceritakan pengalamannya .

Sudah dua hari warga terpaksa tidur dengan alas seadanya dan bertahan dengan sisa bahan makanan yang ada di tenda-tenda darurat. Mereka juga menempatkan hewan ternak tidak jauh dari tenda darurat. Warga belum berani pulang ke rumah karena khawatir akan terjadi banjir susulan.

Selain itu suasana suka cita mewarnai sejumlah warga yang mendatangi desa seberang. Ketika itu mereka tiba untuk mencari bahan makanan di sana. Namun tak disangka, mereka malah bertemu sanak keluarga mereka yang sebelumnya diduga turut menjadi korban keganasan banjir bandang.

Sementara warga Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember, sejauh ini masih mengangkut barang-barang yang bisa diselamatkan dari puing-puing bangunan yang tergenang air bah. Setelah selesai nanti, warga berniat mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.

Niat warga pindah ke lokasi yang lebih tinggi mencuat belakangan ini. Tak sedikit warga bahkan dikabarkan mulai berpikir untuk pindah ke Gunung Argapuro. Di sana terdapat kawasan hutan gunung seluas 4.000 hektare yang berfungsi sebagai resapan air .

Walaupun begitu, hingga kini kawasan tersebut masih sering diguyur hujan dan berpotensi menimbulkan banjir bandang susulan di Kecamatan Panti. Hal itu diketahui berdasarkan pemantauan melalui udara oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.

Atas persoalan ini, Aburizal dan Bachtiar belum bisa mengambil keputusan perihal pemindahan kawasan penduduk yang menjadi korban banjir. Pihaknya, kata Aburizal, masih menunggu hasil evaluasi Pemerintah Provinsi Jatim. "Kita lihat ramalan dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Kalo BMG menyatakan banjir bandangnya tidak akan terjadi lagi, maka orang-orang itu lokasinya tetap di sini. Kalo dikatakan berbahaya, lokasi dipindahkan," jelas Aburizal.

Dalam pemantauan terlihat, sejumlah desa yang ada di Kecamatan Panti porak-poranda. Proses evakuasi warga menemui kendala karena terbatasnya peralatan dan lokasi bencana yang masih terendam lumpur. Meski demikian, Gubernur Jatim Imam Utomo mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah memberikan bantuan berupa dana sebesar Rp 200 juta dan bahan makanan mencapai 20 ton.

Banjir yang melanda Jember mendapat perhatian serius Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kunjungan kerjanya di Bandung, Jawa Barat, tadi sore, Presiden Yudhoyono menyatakan turut berduka atas korban yang meninggal di Jember. SBY--biasa Presiden Yudhoyono disapa--berjanji segera merehabilitasi permukiman dan sawah penduduk yang terendam. Itupun dengan syarat, bila hasil peninjauan BMG memungkinkan untuk menindaklanjuti upaya tersebut. "Ini memerlukan rehabilitasi lebih cepat lebih bagus," ujar Presiden Yudhoyono.

Sementara itu di rumah-rumah kosong di Desa Kemiri, Jember, yang ditinggali para korban banjir dimanfaatkan sebagian warga dengan menjarah barang-barang berharga. Ini dilakukan Rohim yang diringkus Kepolisian Sektor Panti, Jember.

Tubuh Rohim saat ditangkap kotor. Sebab, ketika mencoba kabur, pria berusia 25 tahun tercebur di kubangan lumpur. Rohim kini meringkuk di tahanan Kantor Kepolisian Panti untuk menghindari keroyokan massa. Dari tangan tersangka polisi menyita sebuah lotion dan parfum sebagai barang bukti.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya