Melongok Istana Maimun di Medan

Pelancong dapat menikmati kejayaan Kerajaan Deli berupa bangunan tua Istana Maimun dan Masjid Al-Maksum atau Masjid Raya Medan. Arsitektur kedua bangunan terpengaruh Belanda, India, dan Timur Tengah.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Desember 2005, 09:33 WIB
Liputan6.com, Medan: Siapa tak kenal Kota Medan, Sumatra Utara. Di kota ini masih berdiri megah Istana Maimun, peninggalan Kesultanan Deli di Jalan Brigjen Katamso. Bangunan berlantai dua ini didirikan di atas tanah seluas 2.772 meter persegi ini dibangun pada era Sultan Deli, Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Bangunan berlantai dua ini selesai dikerjakan pada 1888.

Warna kuning atau warna khas Melayu tampak mendominasi dinding bangunan. Ornamen dinding berwarna cerah dan bergaya Belanda, India, dan Timur Tengah. Pengaruh terjadi karena Kesultanan Deli telah lama menjalin hubungan perdagangan--terutama tembakau--dengan ketiga suku bangsa. Istana ini juga mempunyai balairung atau ruang sidang. Balairung berfungsi buat menggelar upacara adat dan keagamaan.

Singgasana raja bersama permaisuri juga masih bisa dijumpai di istana ini. Sekilas kedua singgasana kuning  tampak tak jauh berbeda. Hanya singgasana sang sultan lebih tinggi dari sang putri. Ini sebagai perlambang kekuasaan yang dimiliki sultan. Sejauh ini, warisan yang menjadi saksi kejayaan ini masih utuh. Pasalnya, kerabat sultan yang tinggal bertebaran di Medan secara bergugur gunung merawatnya.

Pada era Sultan Makmun dibangun pula Masjid Al-Maksum atau Masjid Raya Medan pada 1906. Masjid berjarak 100 meter di depan istana ini didirikan untuk beribadah bagi keluarga sultan dan rakyat sekitar. Karena dibangun pihak yang sama, maka tak heran corak arsitektur hampir sama dengan Istana Maimun. Kapasitas masjid mampu menampung sekitar 1.500 orang. Hingga kini masjid ini masih dipakai kaum Muslim untuk beribadah.

Kota Medan tak hanya menawarkan bangunan kuno. Kota ini juga terkenal memiliki penganan yang disukai banyak orang. Sederetan toko yang menjual bika ambon dan manisan medan dapat ditemui di Jalan Mojopahit. Sejumlah manisan beraneka rasa seperti manisan salak, jagung, kolang kaling, mangga, dan jambu tersedia. Makanan ini juga bisa tahan sampai tiga hari. Yang paling khas Medan adalah manisan jambu. Sedangkan bika ambon rasa pandan dan coklat juga tersedia. Harganya seloyang rata-rata Rp 20 ribu hingga Rp 28 ribu. Kue satu ini bahkan tahan empat hari sampai sepekan. Jadinya cocok untuk dibawa ke luar kota.

Sementara di Pasar Sentral tersedia ikan teri medan. Ikan ini memiliki rasa asin dan tawar atau pun manis. Harga per kilo mencapai Rp 48 ribu. Ikan teri ini dikenal tak gampang hancur dan karena itu disukai pecintanya.(MAK/Tim Jalan-jalan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya