Di Nusatenggara Barat, misalnya, dari total 3.484 kasus gizi buruk dan busung lapar, sampai saat ini, baru 1.606 kasus atau sepertiga saja yang telah ditangani. Kepala Dinas Kesehatan NTB Baiq Magdalena, Senin (12/12), mengatakan penuntasan kasus busung lapar ini terganjal masalah transportasi.
Sejak kasus busung lapar ditemukan di Lombok Barat, pemerintah langsung membagikan bahan makanan pada korban busung lapar dan kurang gizi. Nur, warga Karang Pule, Ampenan, NTB, ibu bayi berusia dua tahun dua bulan yang menderita busung lapar sudah delapan kali mendapat bantuan. Paket berupa beras, mi, susu, dan telur itu diberikan selama tiga bulan. Namun, kini, Nur mengaku sudah tidak pernah menerima bantuan.
Advertisement
Pencairan dana gizi buruk di Nusatenggara Timur juga sudah berlangsung sejak Agustus silam. Namun, penderita gizi buruk di Kelurahan Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusatenggara Timur, baru menerima dana pada 3 Desember silam. Seorang warga mengaku baru sekali mendapat santunan berupa uang Rp 1.200 ribu, beras sepuluh kilogram, dan susu dua kaleng untuk anaknya yang menderita gizi buruk.
Sebelumnya warga tidak tahu soal bantuan dana dan pengobatan gratis dari pemerintah daerah setempat. Selama ini, para penderita gizi buruk yang umumnya anak-anak tidak pernah dibawa ke pusat kesehatan masyarakat. Mereka juga cuma makan jagung atau ubi kayu.
Yosefina Manek, petugas Pos Pelayanan Terpadu Naibonat mengatakan, di wilayahnya ada 30 penderita gizi buruk. "Tapi yang dapat hanya 15 saja," kata Yosefina.
Saat ini, pemerintah provinsi NTT memiliki dana Rp 51 miliar yang diperuntukkan bagi penanganan gizi buruk. Sebanyak Rp 26 miliar telah disalurkan sejak Agustus silam. Namun, ternyata belum semua penderita gizi buruk mendapat bantuan [].(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)