Masyarakat Papua mengenal ubi jalar, keladi, singkong, pisang, dan sagu sebagai makanan pokok sejak zaman nenek moyang. Hasil penelitian tim Universitas Cenderawasih menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi umbi-umbian menurun. Sebab, masyarakat menganggap umbi-umbian adalah makanan pokok kelompok masyarakat golongan bawah. Selain itu, pemerintah juga gencar menjadikan nasi sebagai makanan pokok nasional.
Kini, harga beras kian mahal. Sementara tanaman umbi-umbian gagal panen karena cuaca buruk. Padahal, umbi-umbian cocok tumbuh di alam berbukit dan cuaca dingin seperti di Papua.
Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Papua menyebutkan, produksi ubi jalar di kawasan Yahukimo cenderung turun. Pada 1996-1998 produksi ubi jalar mencapai 450 ribu ton. Dua tahun berikut menyusut menjadi 340 ribu ton. Dua tahun silam, produksi ubi jalar menciut menjadi 250 ribu ton. Selain Yahukimo, kawasan penghasil ubi jalar di Pegunungan Tengah adalah Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, dan Tolikara.
Wakil Bupati Yahukimo Daniel Rending mengaku belum dapat memastikan puluhan warganya meninggal karena kelaparan. Informasi tentang korban tewas akibat kelaparan ini diperoleh dari laporan pihak gereja setempat. Aparat pemerintah sudah terjun ke lokasi. "Yang kelaparan hanya di 17 titik, 17 desa dalam Kabupaten Yahukimo," kata Daniel dalam wawancara telepon dari Yahukimo.
Bantuan bahan makanan sudah disiapkan. "Sepuluh ton beras sudah ada dan siap didrop ke lokasi," kata Daniel dari ujung telepon. Namun, cuaca yang buruk dan kesulitan transportasi menjadi kendala penyaluran bantuan.
Daniel yang mengunjungi lokasi kelaparan tadi pagi mengatakan, kegagalan panen ubi terjadi karena hujan yang turun tanpa henti. Warga juga kesulitan mencari makanan pengganti karena cuaca buruk dan lokasi yang terpencil.
Berita kelaparan ini jelas menohok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden malah kaget ada warga Papua yang mati kelaparan di Yahukimo. Karena itu, dia memerintahkan para anak buahnya untuk segera mengambil tindakan mengatasi bencana ini [baca: ]. Sementara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, tim medis akan menuju Yahukimo membawa bantuan makanan dan obat-obatan, besok pagi. Makanan yang dibawa terutama dalam bentuk bubur pengganti ASI.
Yahukimo adalah salah satu kabupaten baru di Papua hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya pada 2003. Nama kabupaten ini diambil dari dua huruf depan empat suku yang bermukim di sana, yaitu Yali, Hubla, Kimyal, dan Momuna.
Sekitar 90 persen tanah di kawasan dengan kepadatan pendukuk enam orang per kilometer persegi ini adalah hutan. Ini membuat Yahukimo seakan tak tersentuh dan tenggelam di pedalaman Papua. Selain sentra ubi jalar, kabupaten berpenduduk lebih dari seratus ribu jiwa ini juga memiliki kekayaan emas dan minyak. Karenanya sangat miris menyaksikan puluhan penduduk tewas di kawasan yang relatif kaya ini.
Papua memang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Salah satu bukti kekayaan provinsi kepala burung ini adalah pertambangan yang dikelola PT Freeport Indonesia. Namun, hasil melimpah dari bahan tambang yang dikuras dari perut bumi Papua tak nampak memajukan masyarakat setempat. Yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat Papua sebagian besar tetap hidup dalam keterbelakangan.
Kelaparan juga pernah melanda Kabupaten Jayawijaya delapan tahun silam. Kala itu, ratusan orang tewas kelaparan karena kemarau panjang. Pengiriman bantuan sangat sulit karena kontur daerah Papua yang didominasi pegunungan. Pesawat yang menjadi transportasi antarwilayah hanya bisa mengudara jika cuaca bagus.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Advertisement