Lampion Damar Kurung, Tradisi yang Nyaris Punah

Kerajinan lampion atau damar kurung hanya dapat ditemui pada saat Ramadan. Sayang, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi memasang lampu oleh warga Semarang, Jawa Tengah, ini sudah nyaris punah.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Oktober 2005, 14:09 WIB
Liputan6.com, Semarang: Pada Ramadan ini, warga Semarang, Jawa Tengah, biasanya masih memasang lampu lampion atau yang biasa mereka sebut damar kurung. Damar kurung adalah lampu yang dibungkus kertas minyak dengan kerangka dari bambu wulung.

Pada zaman Ki Ageng Pandanaran, penyebar Islam pertama di Semarang, lampion damar kurung ini digunakan sebagai penerang kampung. Lampu-lampu ini dipasang untuk menerangi jalan menuju musala jika akan melaksanakan salat tarawih.

Namun, sayangnya tradisi ini mulai memudar. Seiring dengan itu, peminat lampu yang bisa menimbulkan bayangan gambar dan dapat berputar ini kian lama kian berkurang. Sebagaimana yang dirasakan perajin lampion di Kampung Purwosari, Perbalan, Semarang, Jawa Tegah. Beberapa tahun silam, saat masih banyak peminat, hampir seluruh warga Purwosari membuat lampion. Namun, sekarang hanya tersisa satu kelompok saja.

Junarso ketua kelompok perajin lampion yang masih bertahan menyatakan kondisi seperti ini di sisi lain cukup menguntungkan karena saingan berkurang. Dia mengaku bisa mendapatkan rezeki lebih dibanding pekerjaan rutin sebagai kondektur bus dalam kota di Semarang. Junarso bisa membuat sekitar 150 lampion. Lampion dijual antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per buah.(Ian/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya