Pada zaman Ki Ageng Pandanaran, penyebar Islam pertama di Semarang, lampion damar kurung ini digunakan sebagai penerang kampung. Lampu-lampu ini dipasang untuk menerangi jalan menuju musala jika akan melaksanakan salat tarawih.
Namun, sayangnya tradisi ini mulai memudar. Seiring dengan itu, peminat lampu yang bisa menimbulkan bayangan gambar dan dapat berputar ini kian lama kian berkurang. Sebagaimana yang dirasakan perajin lampion di Kampung Purwosari, Perbalan, Semarang, Jawa Tegah. Beberapa tahun silam, saat masih banyak peminat, hampir seluruh warga Purwosari membuat lampion. Namun, sekarang hanya tersisa satu kelompok saja.
Advertisement
Junarso ketua kelompok perajin lampion yang masih bertahan menyatakan kondisi seperti ini di sisi lain cukup menguntungkan karena saingan berkurang. Dia mengaku bisa mendapatkan rezeki lebih dibanding pekerjaan rutin sebagai kondektur bus dalam kota di Semarang. Junarso bisa membuat sekitar 150 lampion. Lampion dijual antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per buah.(Ian/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)