Konstitusi Baru Irak Diperkirakan Disetujui

Kubu pendukung konstitusi baru sejauh ini lebih unggul dalam hasil penghitungan suara referendum Irak. Sementara kelompok Sunni yang menentang draf undang-undang dasar itu baru menang di Provinsi Anbar dan Salahuddin.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Oktober 2005, 07:38 WIB
Liputan6.com, Baghdad: Kendati ditentang kelompok Sunni, rancangan konstitusi baru Irak bakal segera menjadi dasar negara. Hasil penghitungan sementara referendum hingga Ahad (16/10) menunjukkan rakyat Irak yang setuju lebih unggul. Secara nasional, dukungan terhadap draf konstitusi pada referendum Sabtu pekan silam itu datang dari warga Syiah yang berjumlah 60 persen dari 27 juta penduduk Irak. Dukungan tambahan datang dari kelompok Kurdi yang mencapai 20 persen.

Pemungutan suara tersebut diikuti 61 persen warga Irak yang telah memiliki hak pilih. Pemilih dari kalangan Sunni pun tergolong tinggi. Dua dari empat provinsi yang dikuasai kelompok ini malah memperlihatkan dukungan yang besar bagi pemberlakuan konstitusi baru. Di Provinsi Diyala, kelompok pro-konstitusi mencapai 70 persen dari sekitar 400 ribu pemilih. Sementara di Ninevah, hasil pemungutan suara di 260 dari 300 tempat pemungutan suara menunjukkan 300 ribu pemilih mendukung konstitusi baru. Sedang 80 ribu sisanya menolak.

Sejauh ini, kelompok penentang baru menang di Provinsi Anbar dan Salahuddin. Jalan untuk menghadang pengesahan draf undang-undang dasar baru itu masih cukup panjang. Mereka harus bisa meraih dua pertiga suara di minimal tiga provinsi.

Jika konstitusi disetujui, maka rakyat Irak akan kembali memilih wakil rakyat pada 15 Desember mendatang. Parlemen itu akan menunjuk pemerintah baru yang akan mulai bekerja pada akhir tahun ini. Sebaliknya, jika konstitusi itu gagal maka parlemen akan dibubarkan. Parlemen baru hasil pemilihan umum Desember mendatang akan kembali merumuskan konstitusi yang baru.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyambut baik referendum draf konstitusi Irak. Presiden AS George Walker Bush di sela-sela liburan akhir pekannya di Camp David bahkan menyebut keberhasilan referendum itu sebagai kemenangan atas terorisme. Sekaligus menunjukkan tegaknya proses demokrasi di Negeri 1001 Malam.

Lebih jauh Bush menilai rancangan konstitusi baru diharapkan menumbuhkan kepercayaan terhadap pemerintahan Irak termasuk dari warga minoritas Sunni. Termasuk untuk mengatasi kebuntuan akibat konflik kepentingan antaretnis [baca: Referendum, Penentuan Masa Depan Irak].(TOZ/Ijx)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya