Pom Bensin Nakal di Makassar Disegel

Sebuah pom bensin di Jalan Pengayoman, Makassar, Sulawesi Selatan, disegel setelah tertangkap basah menjual solar untuk kalangan industri. SPBU nakal ini juga diketahui mengurangi takaran.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 September 2005, 15:20 WIB
Liputan6.com, Makassar: Jajaran Kepolisian Resor Kota Makassar Timur, belum lama ini, menyegel sebuah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Jalan Pengayoman, Makassar, Sulawesi Selatan. Penyegelan ini dilakukan setelah SPBU itu tertangkap basah menjual solar untuk industri. Dalam penyegelan ini, polisi juga menahan pemilik pom bensin, Paulus.

Dalam pemeriksaan polisi diketahui, modus penyelewengan ini dilakukan dengan berpura-pura mengantar karyawan stasiun pompa bensin  tersebut ke sebuah kawasan industri di Makassar. Tapi, sebelum mengantar karyawan tersebut, pihak SPBU mengisi beberapa jeriken dengan solar. Praktik penyelewengan bahan bakar ini terjadi berulang-ulang dalam sehari sesuai kebutuhan industri tersebut dengan harga yang lebih mahal, yakni Rp 2.500 per liter.

Selain menyelewengkan penjualan solar, SPBU ini juga diketahui mengurangi takarannya. Dari hasil pemeriksaan diketahui, dalam setiap sepuluh liter, SPBU ini hanya mengeluarkan bahan bakar sebanyak 9,1 liter. Artinya, berkurang 0,9 liter dalam setiap sepuluh liternya.

Di Palembang, Sumatra Selatan, polisi menahan delapan kapal jukung yang diduga membawa 220 ton BBM ilegal. Dalam pemeriksaan polisi diketahui jika para pemilik BBM ini tak memiliki dokumen yang sah. Selain kapal, polisi juga menahan seorang pemilik BBM dan dua nakhoda kapal yang hingga kini masih diperiksa untuk dijadikan tersangka.

Kepada polisi, seorang pemilik BBM bernama Abunawar membantah jika yang dibawanya ilegal. Pasalnya, BBM tersebut sudah dilengkapi surat dari kepala desa Sungai Lumpur dan Simpang Tiga Jaya, Ogan Komering Ilir, untuk membeli dan membawa BBM kebutuhan warga kedua desa tersebut.

Pengawasan ketat peredaran BBM memang tengah digalakkan. Namun, bagi ratusan nelayan pemilik kapal motor di kawasan pelelangan ikan di Tumumpa, Manado, Sulawesi Utara, hal itu sangat merugikan. Pasalnya, mereka kini tak dapat melaut menyusul diperketatnya distribusi BBM jenis solar di sejumlah SPBU di Manado oleh aparat keamanan.

Biasanya, untuk melaut para nelayan pemilik kapal membeli solar di sejumlah SPBU dengan harga Rp 2.500 per liter atau lebih mahal Rp 400 dari harga jual sebenarnya. Namun, sejak kontrol BBM lewat SPBU diperketat, nelayan kesulitan untuk mendapatkan BBM. Soalnya, mereka dilarang membeli di SPBU dengan jeriken. Kini untuk mendapatkan solar di pengecer juga tak mudah. Pasalnya, solar di pengecer juga langka.

Kondisi di atas adalah sebagian kecil dari masalah yang dihadapi saat ini. Dipastikan, sejumlah masalah lainnya akan muncul. Inilah yang disuarakan ratusan mahasiswa di Parepare, Sulsel, yang menolak kenaikan harga BBM. Mereka menilai kenaikan harga BBM akan menyesengsarakan rakyat kecil. Mereka justru meminta pemerintah lebih dulu memberantas penyelundupan BBM dan korupsi sebelum menaikkan harga BBM.

Dalam aksinya, pengunjuk rasa juga menggelar happening art yang menggambarkan penderitaan rakyat kecil. Sebagian pengunjuk rasa lainnya mempraktikkan memasak dengan menggunakan kayu bakar, sebagai simbol langkanya BBM yang masih saja terjadi sampai saat ini. Aksi ini berakhir setelah pengunjuk rasa mengusung keranda mayat simbol penderitaan rakyat. Mereka membawa keranda ini menuju pintu masuk Depot Pertamina setempat yang dijaga ketat polisi.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya