Biaya <i>Teleconference</i> Presiden Mahal

Ongkos dikeluarkan untuk biaya tim advance, pajak, pulsa, set up alat serta biaya percakapan Jakarta-Saint Louis serta Jakarta-New York. Biaya videokonferensi tersebut diperkirakan membengkak.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 September 2005, 09:32 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat terobosan baru. Presiden, Rabu (14/9) kemarin, memimpin rapat kabinet terbatas langsung dari Amerika Serikat. Sementara para menteri tetap di Jakarta. Pembicaraan menggunakan fasilitas videokonferensi lewat dua provider: Indosat dan Exelcomindo Pratama [baca: Presiden Membahas Kompensasi BBM].

Rapat berjalan sukses dan lancar. Tapi, ada ongkos untuk semua fasilitas yang digunakan. Menurut hitung-hitungan, biaya yang harus dikeluarkan boleh jadi membuat dahi berkerut: mencapai ratusan juta rupiah. Apalagi, Presiden sampai tiga kali menggunakan kecanggihan alat itu. Satu kali dari Saint Louis dan dua kali di New York.

Ongkos untuk pelaksanaan videokonferensi ini terdiri dari biaya tim advance, pajak, pulsa, set up alat dan biaya percakapan Jakarta-Saint Louis serta Jakarta-New York. Bila ditotal, biaya yang mesti dikeluarkan untuk semua itu berkisar antara Rp 358,6 juta sampai Rp 426 juta [baca: Biaya Videokonferensi Presiden Mencapai Rp 426 Juta].

Biaya teleconference Jakarta-Saint Louis mencapai Rp 94,6 juta. Perinciannya, ongkos buat set up peralatan Rp 80 juta. Biaya pulsa Rp 6 juta. Sedangkan pajak yang harus ditanggung sebesar Rp 8,6 juta.

Adapun ongkos pembicaraan jarak jauh dari New York-Jakarta sebesar Rp 264 juta. Hitung-hitungannya, biaya set up peralatan Rp 160 juta. Biaya pulsa Rp 60 juta. Sedangkan pajak Rp 24 juta.

Semua biaya yang ada di atas mungkin sekali bertambah. Sebab dijadwalkan rapat antarbenua yang dilakukan Presiden dan para pembantunya di Jakarta ini berlangsung sampai 17 September 2004.(ICH/Dewvina Oktora dan Muhammad Guntur)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya