Korban Kecelakaan CN-235 Dimakamkan

Ketiga korban tewas kecelakaan pesawat CN-235 di Lhokseumawe, NAD, dimakamkan dengan upacara militer di kampung halamannya masing-masing. Suasana haru menyelimuti pemakaman para perwira TNI itu.

oleh Liputan6Diterbitkan 22 Juli 2005, 19:51 WIB
Liputan6.com, Malang: Tiga korban tewas kecelakaan pesawat CN-235 di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis silam, dimakamkan, Jumat (22/7). Ketiganya dimakamkan dengan upacara militer di kampung halamannya masing-masing. Letnan Kolonel Infanteri TNI Tugas Wignyo Kusbiantoro dimakamkan di Kota Malang, Jawa Timur, Letkol Sultan Otteman III Mahmud Ma`amun Padrap Perkasa Alam di Medan, Sumatra Utara, dan Mayor Infanteri Taufan Ventiyo Sumantri di Bandung, Jawa Barat.

Sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kota Malang, jenazah Letkol Tugas Wignyo disemayamkan terakhir kalinya di rumah duka yang diliputi suasana haru. Adik kandung almarhum sempat pingsan saat melihat jenazah korban untuk terakhir kalinya. Lulusan AKABRI 1988 ini meninggalkan seorang istri serta seorang anak yang duduk di sekolah menengah pertama. Di akhir hayatnya, pria yang wafat pada usia 40 tahun ini menjabat sebagai Komandan Batalyon 521 Komando Resor Militer 082 Kodam V Brawijaya.

Di Bandung, jenazah Mayor Taufan dimakamkan di TMP Cikutra. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua putra. Suasana duka menyelimuti rumah maupun proses pemakaman almarhum. Ratusan pelayat memberi penghormatan terakhir kepada almarhum yang dimakamkan dengan upacara militer.

Berbeda dengan kedua korban tewas lainnya, jenazah Letkol Inf. Otteman Mahmud dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja di Masjid Raya Al-Maksum--lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan, Sumut. Maklum, almarhum juga Sultan Deli XIII. Tak heran, prosesi pemakaman almarhum dilakukan secara adat kerajaan dan upacara kemiliteran.

Prosesi diawali dari Istana Maimun. Dari istana, jenazah almarhum yang menggunakan rahab atau keranda bertingkat sembilan dibawa ke Masjid Raya Medan untuk disalatkan. Ribuan warga dan kerabat juga ikut menyalatkan jenazah. Kemudian jenazah dibawa ke tempat pemakaman di sekitar Kompleks Masjid Raya Medan. Prosesi pemakaman dipimpin langsung Panglima Daerah Militer III Siliwangi Mayjen TNI Sriyanto disaksikan Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin beserta Kepala Staf I Bukit Barisan.

Istri almarhum, Siska Marabintang Palaguna tak kuasa menahan tangis menyaksikan pemakaman suaminya. Siska didampingi dua putranya, Tengku Mahmud Arya Lamanzizi dan adiknya Tengku Zulkarnaen Otteman. Kini, Tengku Mahmud yang berusia delapan tahun menggantikan posisi ayahnya. Siang tadi, Tengku Mahmud dikukuhkan sebagai Sultan Deli XIV.

Sebelum diangkat dan dinobatkan sebagai Sultan Deli, terlebih dahulu para pemangku adat sultan, yakni Datuk Sukapiring, Datuk Sepuluh Dua Kuta, Datuk Serba Nyaman, dan Datuk Kejuruan Sinembah Deli menggelar rapat untuk menentukan pewaris tahta. Akhirnya, Tengku Mahmud dinobatkan sebagai Raja Kesultanan Deli dengan gelar Tengku Mahmud Almajidi Perkasa Alam [baca: Penobatan Sultan Deli XIV].

Di hadapan peti jenazah ayahnya, prosesi pengangkatan dilakukan. Tengku Mahmud diminta menghunus Pedang Bawar sebagai lambang kekuasaan kesultanan. Nantinya, sultan termuda sepanjang Kesultanan Deli ini akan didampingi Tengku Hamid Osman Deli Khan untuk menjalankan tugas sehari-hari. Terakhir, sultan termuda Deli terjadi pada 1872. Saat itu, Sultan Deli II Sultan Mahmud Perkasa Alam digantikan putranya, Sultan Mahmun Perkasa Alam, yang masih berusia 16 tahun menjadi Sultan Deli ke-3.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya