Liputan6.com, Tepi Barat: Brigade Syuhada Al-Aqsa melancarkan dua serangan roket ke Desa Nativ Haasara, Israel selatan, Kamis (14/7). Pejuang Palestina mengklaim, serangan ini sebagai balasan atas pembunuhan seorang anggota brigade Al-Aqsa oleh tentara Israel. Penyerbuan itu dilakukan militer Israel ke rumah seorang warga Inggris di Nablus, Tepi Barat.
Pihak Israel menyatakan, serangan roket menewaskan seorang wanita dan menghancurkan sebuah mobil. Sementara media Israel melaporkan, serangan roket lain menghantam sebuah pos tentara di Nahal Oz dan tidak merenggut korban. Selasa pekan ini, sebuah serangan bom bunuh diri juga menewaskan dua orang dan melukai 30 warga Israel [baca: Netanya Diguncang Bom, Dua Tewas].
Rangkaian insiden di atas menandakan peningkatan kekerasan dan bisa merusak gencatan senjata. Penasihat Presiden Palestina Mahmud Abbas, Abil Abu Redneh, menegaskan Palestina tetap menaati gencatan senjata. Sebaliknya, Redneh menuduh Israel yang memicu peningkatan kekerasan.
Sementara di Jerusalem, sekitar 1.000 orang Yahudi yang menentang kebijakan penarikan Israel dari wilayah-wilayah Palestina, berkumpul di Tembok Ratapan. Mereka berdoa agar kebijakan yang diajukan Perdana Menteri Ariel Sharon tidak terlaksana [baca: Keamanan, Unsur Terpenting Penarikan Mundur Israel].(YAN/Rcm)
Pihak Israel menyatakan, serangan roket menewaskan seorang wanita dan menghancurkan sebuah mobil. Sementara media Israel melaporkan, serangan roket lain menghantam sebuah pos tentara di Nahal Oz dan tidak merenggut korban. Selasa pekan ini, sebuah serangan bom bunuh diri juga menewaskan dua orang dan melukai 30 warga Israel [baca: Netanya Diguncang Bom, Dua Tewas].
Rangkaian insiden di atas menandakan peningkatan kekerasan dan bisa merusak gencatan senjata. Penasihat Presiden Palestina Mahmud Abbas, Abil Abu Redneh, menegaskan Palestina tetap menaati gencatan senjata. Sebaliknya, Redneh menuduh Israel yang memicu peningkatan kekerasan.
Sementara di Jerusalem, sekitar 1.000 orang Yahudi yang menentang kebijakan penarikan Israel dari wilayah-wilayah Palestina, berkumpul di Tembok Ratapan. Mereka berdoa agar kebijakan yang diajukan Perdana Menteri Ariel Sharon tidak terlaksana [baca: Keamanan, Unsur Terpenting Penarikan Mundur Israel].(YAN/Rcm)