Liputan6.com, Jakarta: Sepandai-pandainya tupai meloncat, sekali waktu terjatuh juga. Sepintar-pintarnya Ginandjar Kartasasmita berkelit, suatu saat terjerat juga. Itulah yang dialami Djonie --begitu ia akrab disapa-- ketika Kejaksaan Agung secara resmi mengeluarkan surat perintah penahanan dirinya, Sabtu pekan silam. Padahal, jebolan Sekolah Ilmu Siasat Angkatan Udara (1968) ini dikenal amat lihai menghindari jaring hukum. Banyak kalangan menilai lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat, yang pada 9 April 2001 berusia 60 tahun ini, bagai seekor belut.
Pada Kasus Balongan, misalnya. Perkara mark-up senilai US$ 113 juta --sekitar Rp 1,3 triliun-- ini tak juga bisa menyeret Djonie ke meja hijau. Begitu juga dengan Kasus Listrik Swasta Paiton I. Tak tertinggal, kasus penjualan sepuluh persen saham tambang Freeport kepada Grup Bakrie senilai US$ 213 juta. Belum selesai. Masih ada lagi satu kasus yang tak juga mampu membawa penggemar lalap dan sambal ini ke pengadilan, yakni, kasus pengalihan saham perusahaan pendukung pertambangan Freeport kepada Abdul Latief senilai US$ 370 juta.
Djonie yang sejak Kamis siang sebelumnya menjalani rawat inap untuk pemeriksaan otak dan jantung di Rumah Sakit Pusat Pertamina di kawasan Jakarta Selatan, tak pernah menyangka bakal menjadi tersangka. Apalagi, kasus dugaan korupsi bantuan teknis atawa technical assistance contract Pertamina dengan PT Ustraindo Petro Gas untuk pengeboran empat sumur minyak di Sumatra Selatan dan Jawa Barat ini adalah kasus lama. Toh, di tengah tekanan pemerintahan Abdurrahman ke Partai Golkar, Ginandjar diburu. Anak keempat dari sepuluh bersaudara yang dikenal piawai menjaga citra sebagai pejabat yang baik ini tak berkutik sudah.
Padahal, siapa yang tak kenal kelihaian Ginandjar di dunia politik. Pada saat Presiden Soeharto akan tumbang, ia menjadi komandan barisan menteri ekonomi untuk mental dari kabinet yang sudah limbung. Djonie berkelit mencari selamat dan larut dalam hiruk-pikuk reformasi. Ia juga ikut menyusun Garis-garis Besar Haluan Negara. Menariknya, Sidang Umum MPR memilih dia sebagai wakil ketua MPR mendampingi Amien Rais sebagai ketua lembaga tertinggi negeri ini. Lantaran lobinya yang dashyat, Jaksa Agung Marzuki Darusman memberikan izin Djonie belajar di Boston, Amerika Serikat. Sebelumnya, ia sempat mengenyam bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia juga pernah memperoleh beasiswa ke Jepang, belajar di Tokyo University for Agriculture Chemical Engineering. Lulus di tahun 1965, ia menyandang gelar sebagai insinyur teknik kimia.
Djonie memulai karier di TNI Angkatan Udara dengan pangkat letnan satu. Sejak menyandang pangkat kapten, ia ditugasi di Sekretariat Negara. Di sana, ia sempat mengikuti pendidikan Lembaga Administrasi Negara dan lulus menjadi sarjana administrasi negara pada 1980. Dua tahun kemudian, Djonie menjabat sebagai anggota Badan Pekerja MPR. Ia juga berulang kali menjadi anggota delegasi Tanah Air ke berbagai konferensi internasional. Cukup sering putra Husen Kartasasmita-Ratjih Natawidjaja ini ikut dalam perlawatan kenegaraan presiden. Sang ayah adalah bekas pegawai Kementerian Pertahanan yang aktif di Partai Nasional Indonesia, dan pernah menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Ibunya, Ratjih Natawidjaja, juga aktivis PNI.
Jangan pernah menantangnya berkelahi. Maklum, ayah tiga anak yang sudah haji ini pengagum semangat bushido masyarakat Jepang. Itu sebabnya, Djonie amat menggemari olah raga bela diri kendo dan kempo, yang dipelajarinya secara serius ketika di Jepang. Tak sia-sia, sabuk hitam Dan II sudah ia genggam. Lelaki berperawakan tinggi yang tak suka merokok ini juga menggemari golf dengan handicap 16. Tapi, tentu bukan karena olah raga terakhir ini ia tersungkur ke dalam lubang, seiring dirinya yang tak lagi lihai meloncat-loncat.(RSB)
Pada Kasus Balongan, misalnya. Perkara mark-up senilai US$ 113 juta --sekitar Rp 1,3 triliun-- ini tak juga bisa menyeret Djonie ke meja hijau. Begitu juga dengan Kasus Listrik Swasta Paiton I. Tak tertinggal, kasus penjualan sepuluh persen saham tambang Freeport kepada Grup Bakrie senilai US$ 213 juta. Belum selesai. Masih ada lagi satu kasus yang tak juga mampu membawa penggemar lalap dan sambal ini ke pengadilan, yakni, kasus pengalihan saham perusahaan pendukung pertambangan Freeport kepada Abdul Latief senilai US$ 370 juta.
Djonie yang sejak Kamis siang sebelumnya menjalani rawat inap untuk pemeriksaan otak dan jantung di Rumah Sakit Pusat Pertamina di kawasan Jakarta Selatan, tak pernah menyangka bakal menjadi tersangka. Apalagi, kasus dugaan korupsi bantuan teknis atawa technical assistance contract Pertamina dengan PT Ustraindo Petro Gas untuk pengeboran empat sumur minyak di Sumatra Selatan dan Jawa Barat ini adalah kasus lama. Toh, di tengah tekanan pemerintahan Abdurrahman ke Partai Golkar, Ginandjar diburu. Anak keempat dari sepuluh bersaudara yang dikenal piawai menjaga citra sebagai pejabat yang baik ini tak berkutik sudah.
Padahal, siapa yang tak kenal kelihaian Ginandjar di dunia politik. Pada saat Presiden Soeharto akan tumbang, ia menjadi komandan barisan menteri ekonomi untuk mental dari kabinet yang sudah limbung. Djonie berkelit mencari selamat dan larut dalam hiruk-pikuk reformasi. Ia juga ikut menyusun Garis-garis Besar Haluan Negara. Menariknya, Sidang Umum MPR memilih dia sebagai wakil ketua MPR mendampingi Amien Rais sebagai ketua lembaga tertinggi negeri ini. Lantaran lobinya yang dashyat, Jaksa Agung Marzuki Darusman memberikan izin Djonie belajar di Boston, Amerika Serikat. Sebelumnya, ia sempat mengenyam bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia juga pernah memperoleh beasiswa ke Jepang, belajar di Tokyo University for Agriculture Chemical Engineering. Lulus di tahun 1965, ia menyandang gelar sebagai insinyur teknik kimia.
Djonie memulai karier di TNI Angkatan Udara dengan pangkat letnan satu. Sejak menyandang pangkat kapten, ia ditugasi di Sekretariat Negara. Di sana, ia sempat mengikuti pendidikan Lembaga Administrasi Negara dan lulus menjadi sarjana administrasi negara pada 1980. Dua tahun kemudian, Djonie menjabat sebagai anggota Badan Pekerja MPR. Ia juga berulang kali menjadi anggota delegasi Tanah Air ke berbagai konferensi internasional. Cukup sering putra Husen Kartasasmita-Ratjih Natawidjaja ini ikut dalam perlawatan kenegaraan presiden. Sang ayah adalah bekas pegawai Kementerian Pertahanan yang aktif di Partai Nasional Indonesia, dan pernah menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Ibunya, Ratjih Natawidjaja, juga aktivis PNI.
Jangan pernah menantangnya berkelahi. Maklum, ayah tiga anak yang sudah haji ini pengagum semangat bushido masyarakat Jepang. Itu sebabnya, Djonie amat menggemari olah raga bela diri kendo dan kempo, yang dipelajarinya secara serius ketika di Jepang. Tak sia-sia, sabuk hitam Dan II sudah ia genggam. Lelaki berperawakan tinggi yang tak suka merokok ini juga menggemari golf dengan handicap 16. Tapi, tentu bukan karena olah raga terakhir ini ia tersungkur ke dalam lubang, seiring dirinya yang tak lagi lihai meloncat-loncat.(RSB)