Liputan6.com, London: Tim penyelidik kepolisian London, Inggris, Jumat (8/7), masih menyelidiki kasus peledakan beruntun stasiun kereta bawah tanah yang dikenal dengan London Underground. Polisi masih mencari apakah peledakan itu aksi bom bunuh diri atau menggunakan timer untuk memicu ledakan. Namun, diduga kuat pelaksana ledakan berjumlah lebih dari satu orang.
Hingga berita ini ditulis, polisi belum bersedia mengaitkan langsung kejadian itu dengan klaim dari kelompok yang menamakan diri Al-Qaidah di Eropa. Hal ini berbeda dengan pernyataan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mengatakan serangan bom di London dilakukan atas nama Islam. Pernyataan itu disesalkan Dewan Muslim Inggris karena Blair dinilai terlalu terburu-buru dan memojokkan umat Islam [baca: Dewan Muslim Inggris Berang].
Sebagian umat muslim di London mengaku khawatir menjadi sasaran aksi balas dendam pascaperistiwa ledakan beruntun yang terjadi Kamis silam. Pasalnya, pasca-Tragedi 11 September 2001, komunitas muslim Inggris gencar menerima intimidasi. Dari surat-surat bernada kebencian hingga yang berupa kontak fisik. Sejauh ini warga muslim di London mencapai sepuluh persen dari populasi penduduk di ibu kota Inggris itu yang berjumlah delapan juta jiwa.
Hingga petang ini, jumlah korban yang tewas sekurangnya 50 orang. Tiga belas di antaranya tewas dalam ledakan di bus tingkat. Sedangkan lebih dari 700 korban dirawat di rumah sakit baik akibat terluka maupun keluhan lain seperti serangan jantung karena suara ledakan bom.(DNP/Nlg)
Hingga berita ini ditulis, polisi belum bersedia mengaitkan langsung kejadian itu dengan klaim dari kelompok yang menamakan diri Al-Qaidah di Eropa. Hal ini berbeda dengan pernyataan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mengatakan serangan bom di London dilakukan atas nama Islam. Pernyataan itu disesalkan Dewan Muslim Inggris karena Blair dinilai terlalu terburu-buru dan memojokkan umat Islam [baca: Dewan Muslim Inggris Berang].
Sebagian umat muslim di London mengaku khawatir menjadi sasaran aksi balas dendam pascaperistiwa ledakan beruntun yang terjadi Kamis silam. Pasalnya, pasca-Tragedi 11 September 2001, komunitas muslim Inggris gencar menerima intimidasi. Dari surat-surat bernada kebencian hingga yang berupa kontak fisik. Sejauh ini warga muslim di London mencapai sepuluh persen dari populasi penduduk di ibu kota Inggris itu yang berjumlah delapan juta jiwa.
Hingga petang ini, jumlah korban yang tewas sekurangnya 50 orang. Tiga belas di antaranya tewas dalam ledakan di bus tingkat. Sedangkan lebih dari 700 korban dirawat di rumah sakit baik akibat terluka maupun keluhan lain seperti serangan jantung karena suara ledakan bom.(DNP/Nlg)