Liputan6.com, Jambi: Sidang gugatan anak jalanan terhadap calon gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin, mulai digelar di Pengadilan Negeri Jambi, Jumat (27/5). Melalui tim suksesnya, Zulkifli berjanji akan membangun rumah singgah. Namun hingga kini janji itu tidak terbukti. Sidang terpaksa ditunda karena ketidakhadiran pihak tergugat, Assad Isma, salah seorang tim sukses Zulkifli.
Gugatan dilayangkan anak jalanan karena tim sukses Zulkifli Nurdin tidak menepati janji yang dibuat di atas kertas bermaterai pada 6 Januari 2005. Dalam surat itu disebutkan antara lain tim sukses menyanggupi menyediakan rumah singgah anak jalanan beserta fasilitasnya.
PN Jambi akan memanggil tergugat hingga tiga kali. Apabila tergugat tidak juga datang maka sidang akan tetap dilanjutkan untuk membahas materi gugatan. Assad Isma yang dihubungi melalui telepon mengatakan siap melayani gugatan tersebut. Assad mengaku, pihaknya telah beritikad baik dengan memberikan sejumlah uang pada anak jalanan. Namun niatan itu ditolak.
Zulkifli juga tengah bermasalah terkait dengan pemasangan fotonya dalam sampul Alquran. Dua hari silam, sekitar 200 warga berunjuk rasa mengutuk pemasangan foto itu. Tindakan Zulkifli dianggap melecehkan kitab suci umat Islam. Demonstran mendesak Majelis Ulama Jambi dan pemerintah daerah setempat menindak tegas yang bersangkutan [baca: KPU Pangkep Didesak Menunda Pelaksanaan Pilkada].
Aksi protes terus mewarnai proses pemilihan kepala daerah (pilkada) di Tanah Air. Di Jayapura, Papua, aksi kembali digelar ratusan pendukung pasangan bakal calon wali kota dan wakilnya, Jan Hendrik Hamadi dan Bangun Manurung. Aksi ketiga kalinya ini dilakukan di Kantor Komisi Pemilihan Umum Kota Jayapura. Mereka mengaku kecewa karena KPU setempat tak memberikan kepastian atas nasib Hendrik-Bangun yang sebelumnya digugurkan karena tidak memenuhi persyaratan administrasi [baca: Kantor KPU Kota Jayapura Didemonstrasi].
Dalam orasinya demonstran tetap meminta KPU Kota Jayapura meloloskan pasangan Hendrik-Bangun. Menurut mereka, Hendrik sebagai putra daerah sangat pantas dan wajar ikut dalam pemilihan wali kota Jayapura, 27 Juni mendatang. Massa sempat menjebol pintu masuk KPU Kota Jayapura.
Ketua KPU Jayapura La Pona akhirnya menunda pengumuman bakal calon wali kota hingga Selasa mendatang. Alasannya, KPU setempat masih harus berkonsultasi dengan pihak terkait. Setelah mengepung Kantor KPU Jayapura selama lima jam, pendukung Hendrik akhirnya membubarkan diri.
Sementara pencurian start kampanye terus terjadi. Di Bitung, Sulawesi Utara, misalnya. Meski masa kampanye belum dimulai, calon wali kota dan wakilnya mulai menggalang massa. Itu dilakukan pasangan calon Hanny Sondakh dan wakilnya, Robert Lahindo. Mereka mendeklarasikan pencalonan dengan menghadirkan sekitar 40 ribu warga di Lapangan Maesa, di pusat Kota Bitung.
Aksi penggalangan massa pasangan Hanny-Robert ini tak beda seperti kampanye. Selain berisi orasi politik, sejumlah spanduk juga bertebaran di sekitar lapangan. Sebelum deklarasi dimulai, seorang pengusaha Kota Bitung yang mengaku pendukung Hanny-Robert berlari dengan bertelanjang badan ketika akan masuk lapangan. Kontan aksi sang pengusaha itu menarik perhatian warga bahkan sempat memacetkan beberapa ruas jalan. Maklum, aksi sang pengusaha diikuti konvoi ratusan sepeda motor.
Pihak Panitia Pengawas Pemilu Kota Bitung mengaku tidak dapat mengambil sikap terhadap pasangan Hanny-Robert. Alasannya aksi pengumpulan massa itu mempunyai izin resmi dari kepolisian.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Gugatan dilayangkan anak jalanan karena tim sukses Zulkifli Nurdin tidak menepati janji yang dibuat di atas kertas bermaterai pada 6 Januari 2005. Dalam surat itu disebutkan antara lain tim sukses menyanggupi menyediakan rumah singgah anak jalanan beserta fasilitasnya.
PN Jambi akan memanggil tergugat hingga tiga kali. Apabila tergugat tidak juga datang maka sidang akan tetap dilanjutkan untuk membahas materi gugatan. Assad Isma yang dihubungi melalui telepon mengatakan siap melayani gugatan tersebut. Assad mengaku, pihaknya telah beritikad baik dengan memberikan sejumlah uang pada anak jalanan. Namun niatan itu ditolak.
Zulkifli juga tengah bermasalah terkait dengan pemasangan fotonya dalam sampul Alquran. Dua hari silam, sekitar 200 warga berunjuk rasa mengutuk pemasangan foto itu. Tindakan Zulkifli dianggap melecehkan kitab suci umat Islam. Demonstran mendesak Majelis Ulama Jambi dan pemerintah daerah setempat menindak tegas yang bersangkutan [baca: KPU Pangkep Didesak Menunda Pelaksanaan Pilkada].
Aksi protes terus mewarnai proses pemilihan kepala daerah (pilkada) di Tanah Air. Di Jayapura, Papua, aksi kembali digelar ratusan pendukung pasangan bakal calon wali kota dan wakilnya, Jan Hendrik Hamadi dan Bangun Manurung. Aksi ketiga kalinya ini dilakukan di Kantor Komisi Pemilihan Umum Kota Jayapura. Mereka mengaku kecewa karena KPU setempat tak memberikan kepastian atas nasib Hendrik-Bangun yang sebelumnya digugurkan karena tidak memenuhi persyaratan administrasi [baca: Kantor KPU Kota Jayapura Didemonstrasi].
Dalam orasinya demonstran tetap meminta KPU Kota Jayapura meloloskan pasangan Hendrik-Bangun. Menurut mereka, Hendrik sebagai putra daerah sangat pantas dan wajar ikut dalam pemilihan wali kota Jayapura, 27 Juni mendatang. Massa sempat menjebol pintu masuk KPU Kota Jayapura.
Ketua KPU Jayapura La Pona akhirnya menunda pengumuman bakal calon wali kota hingga Selasa mendatang. Alasannya, KPU setempat masih harus berkonsultasi dengan pihak terkait. Setelah mengepung Kantor KPU Jayapura selama lima jam, pendukung Hendrik akhirnya membubarkan diri.
Sementara pencurian start kampanye terus terjadi. Di Bitung, Sulawesi Utara, misalnya. Meski masa kampanye belum dimulai, calon wali kota dan wakilnya mulai menggalang massa. Itu dilakukan pasangan calon Hanny Sondakh dan wakilnya, Robert Lahindo. Mereka mendeklarasikan pencalonan dengan menghadirkan sekitar 40 ribu warga di Lapangan Maesa, di pusat Kota Bitung.
Aksi penggalangan massa pasangan Hanny-Robert ini tak beda seperti kampanye. Selain berisi orasi politik, sejumlah spanduk juga bertebaran di sekitar lapangan. Sebelum deklarasi dimulai, seorang pengusaha Kota Bitung yang mengaku pendukung Hanny-Robert berlari dengan bertelanjang badan ketika akan masuk lapangan. Kontan aksi sang pengusaha itu menarik perhatian warga bahkan sempat memacetkan beberapa ruas jalan. Maklum, aksi sang pengusaha diikuti konvoi ratusan sepeda motor.
Pihak Panitia Pengawas Pemilu Kota Bitung mengaku tidak dapat mengambil sikap terhadap pasangan Hanny-Robert. Alasannya aksi pengumpulan massa itu mempunyai izin resmi dari kepolisian.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)