Liputan6.com, Lome: Eksodus besar-besaran warga Togo terus berlangsung hingga Kamis (5/5). Sekitar 1.000 orang, setiap hari, pergi dari Togo menuju Benin dan Ghana. Mereka mengungsi karena takut kerusuhan yang terus merajalela di Togo pasca-pemilu belum lama ini.
Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) memperkirakan jumlah pengungsi Togo di Benin dan Ghana mencapai 2.000 jiwa. Membludaknya pengungsi membuat pekerja sosial harus bekerja keras untuk memastikan tercukupinya kebutuhan mereka. Kebutuhan antara lain mencakup makanan, tenda, dan kelambu. Tenaga medis pun kerepotan mengurusi pengungsi yang terluka.
Kerusuhan dan kekerasan di Togo dipicu pengangkatan Faure Gnassingbe menjadi presiden menggantikan Eyadema Gnassingbe, ayahnya. Eyadema meninggal Februari silam. Tapi pelantikan Faure ditentang keras warga Togo dan dunia internasional. Belakangan Faure setuju mundur dan menggelar pemilihan umum.
Pemilu di Togo kembali menempatkan Faure menjadi presiden. Tapi kemenangan Faure justru memicu gelombang kerusuhan baru dimotori kelompok oposisi. Mereka tak puas. Hasil pemilu diduga sarat kecurangan. Diplomat asing di Togo mengatakan, kerusuhan telah merenggut sedikitnya 100 korban jiwa [baca: Oposisi di Togo Menuding Pemilu Dicurangi].(ICH/Uri)
Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) memperkirakan jumlah pengungsi Togo di Benin dan Ghana mencapai 2.000 jiwa. Membludaknya pengungsi membuat pekerja sosial harus bekerja keras untuk memastikan tercukupinya kebutuhan mereka. Kebutuhan antara lain mencakup makanan, tenda, dan kelambu. Tenaga medis pun kerepotan mengurusi pengungsi yang terluka.
Kerusuhan dan kekerasan di Togo dipicu pengangkatan Faure Gnassingbe menjadi presiden menggantikan Eyadema Gnassingbe, ayahnya. Eyadema meninggal Februari silam. Tapi pelantikan Faure ditentang keras warga Togo dan dunia internasional. Belakangan Faure setuju mundur dan menggelar pemilihan umum.
Pemilu di Togo kembali menempatkan Faure menjadi presiden. Tapi kemenangan Faure justru memicu gelombang kerusuhan baru dimotori kelompok oposisi. Mereka tak puas. Hasil pemilu diduga sarat kecurangan. Diplomat asing di Togo mengatakan, kerusuhan telah merenggut sedikitnya 100 korban jiwa [baca: Oposisi di Togo Menuding Pemilu Dicurangi].(ICH/Uri)